Bolmong

Dapat Kredit dari DanaRupiah, Ini Cerita Petani Jagung di Dumoga Bolmong

Pemberian bantuan kredit itu langkah awal dalam rangka meningkatkan produksi dan mendorong kesejahteraan petani

Dapat Kredit dari DanaRupiah, Ini Cerita Petani Jagung di Dumoga Bolmong
Tribun Manado/Fernando Lumowa
CEO DanaRupiah, Entjik S. Djafar, Dirut PT Karya Bangun Informasi, Muh. Yuslan dan pejabat terkait diabadikan bersama petani penerima bantuan kredit dari DanaRupiah di Desa Mogoyunggung II, Kecamatan Dumoga Timur, Bolmong, Kamis (04/07/2019). 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Jemmy Wongkar boleh bernafas lega. Kini ia tak perlu pusing memikirkan bagaimana mencari modal untuk membiayai pertanian jagungnya.

Begitu juga, ia tak akan sakit kepala mencari pupuk.

"Bantuan modal usaha dari DanaRupiah ini sangat membantu kami," kata Jemmy di sela penyerahan bantuan kredit pertanian oleh PT DanaRupiah, Perusahaan Fintech P2P Lending kepada petani jagung di Desa Mogoyunggung II, Kecamatan Dumoga Timur, Kabupaten Bolmong, Kamis (04/07/2019).

Jemmy, satu di antara 200 petani jagung di Dumoga raya penerima kredit. Ia cerita, selama ini, petani selaku kesulitan permodalan untuk mengelola pertanian jagung.

Kadang, duit untuk beli bibit dan pupuk sudah ada, mereka Sulut mencari pupuk. Persoalan itu bisa diatasi karena DanaRupiah menggandeng PT Karya Bangun Informasi (KBI) sebagai penyedia bibit dan pupuk.

Lain lagi penuturan Chrisje Gosal, petani asal Desa Pinonobatuan (Tambun). Persoalan lainnya ialah biaya pengupas jagung pada saat panen tiba.

Petani acap tak punya modal lagi untuk membayar biaya kupas. Pengupas biasanya meminta Rp 5 ribu per kilo (sekarung). Untuk sehektar, butuh dana Rp 3-4 juta biaya kupas.

Karenanya, mereka terpaksa mengupas sendiri dan memakan waktu. Padahal, jagung harus segera dikeringkan. 

"Setelah itu, kami bingung memasarkan ke mana. Kini bisa difasilitasi DanaRupiah yang menggandeng PT KBI. Setidaknya kami bisa terbantu," kata Chrisje seraya memastikan ia dan penerima kredit siap memenuhi kewajiban setelah panen.

Selama ini, biasanya petani menjual jagungnya ke pedagang pengumpul. Harganya kadang tidak sesuai karena petani lebih dulu terjerat ijon.

Halaman
12
Penulis: Fernando_Lumowa
Editor: Finneke Wolajan
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved