Ini Ajakan Gubernur Olly untuk Kubu 01-02: Gerindra Tanggapi soal Rekonsiliasi

Kontestasi Pilpres 2019 berakhir di Mahkamah Konstitusi. Hakim Mahkamah telah membacakan keputusan sidang gugatan perselisihan

Ini Ajakan Gubernur Olly untuk Kubu 01-02: Gerindra Tanggapi soal Rekonsiliasi
Tribun manado / Ryo Noor
Gubernur Sulut Olly Dondokambey 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Kontestasi Pilpres 2019 berakhir di Mahkamah Konstitusi. Hakim Mahkamah telah membacakan keputusan sidang gugatan perselisihan hasil Pilpres 2019, Kamis (27/6/2019). Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey meminta pendukung capres-cawapres 01 dan 02 menghargai apa yang sudah jadi keputusan MK.

"Saya imbau masyarakat menghargai apa yang sudah diputuskan MK," ujarnya kepada tribunmanado.co.id, Kamis kemarin. Pemilu sudah usai dengan keluarnya putusan MK, semua punya satu tekad untuk membangun bangsa, setelah sempat melalui perbedaan pilihan. "Kita saling membangun lebih hebat lagi, " kata dia.

Baca: Kecelakan Lalin dan Kemacetan Jadi Topik yang Dibahas Jelang Pengucapan Syukur

Gubernur pun menegaskan, slogan yang ia gagasan dan selalu digunakan dalam berbagai kesempatan untuk merajut persaudaraan, kerukunan dan rasa kebangsaan. "Karena torang (kita) samua ciptaan Tuhan," ungkap dia.

Ketua DPD Partai Gerindra Sulut Wenny Lumentut
Ketua DPD Partai Gerindra Sulut Wenny Lumentut (tribun manado/arthur rompis)

Soal hasil putusan MK, Wenny Lumentut menyebutnya urusan pusat. Begitu juga urusan rekonsiliasi. "Urusan DPP. Torang (kami) cuma anak buah," katanya, tadi malam. Ia mengutip kedudukan warga negara di hadapan hukum. Itu harus dihormati. "Prinsipnya setiap warna negara taat hukum. Apapun putusan MK, semua harus hormati," katanya.

Hukum harus dihormati baik kubu 01 maupun 02. Begitu juga dalam hal ini putusan MK. "Baik kubu 01 maupun 02," ujarnya. Wenny lalu mengutip sebuah judul lagu. "Hanya Tuhan yang tahu semuanya," katanya. Ia mengatakan Sulut sudah lama rekonsiliasi. "Di Sulut sudah lama rekonsiliasi. Di pusat urusan pusat," ujarnya.

Ferry Liando, pengamat politik dari Unsrat mengatakan, tadi malam merupakan masa bersejarah bagi bangsa Indonesia. MK akhirnya menyelesaikan rapat permusyawaratan hakim yang kemudian membacakannya.

Baca: Joko Widodo dan Maruf Amin Respon Putusan MK, Nilai Sidang MK Berjalan Adil dan Transparan

“Tentu semua pihak berharap bahwa tidak ada reaksi apapun yang timbul akibat putusan itu. Dugaan pada waktu lalu bahwa pengajuan PHPU yang dilakukan pihak Prabowo-Sandi hanya salah satu cara untuk menunda pengesahan hasil pemilu,” kata dia.

Sebab penetapan KPU yang awalnya dijadwalkan tanggal 22 Mei ternyata itu dilakukan pada 21 Mei dan tidak diperkirakan sama sekali sehingga konsolidasi untuk melakukan perlawanan (people power) menjadi kacau balau.

Sehingga perlu waktu untuk melakukan gerakan konsolidasi dengan cara mengulur waktu pengesahan. Dugaan itu terbantahkan ketika pada Selasa (11/6/2019), Prabowo meminta para pendukungnya bersikap dewasa dan tenang dalam menyikapi apapun putusan MK atas sengketa tersebut.

“Sikap ini sangat mengharukan sekaligus memastikan bahwa Indonesia sebagai bangsa masih akan berumur panjang,” ujar dia.

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved