Ada Uang 30 Ribu Dolar AS Disita KPK: Begini Pengakuan Menteri Agama

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengaku uang 30 ribu Dolar AS yang ditemukan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Tribun Jabar
Menteri Agama Lukman Hakim 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengaku uang 30 ribu Dolar AS yang ditemukan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di laci meja kerjanya merupakan pemberian pejabat Arab Saudi.

Hal itu disampaikannya saat menjadi saksi kasus dugaan suap jual beli jabatan di Kementerian Agama dengan terdakwa mantan Kakanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur, Haris Hasanuddin, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Rabu (26/6).

Baca: Strategi Golkar Hadapi Pilkada di Sulut: Ini yang Dilakukan CEP

Lukman membantah uang 30 ribu Dolar AS di laci meja kerjanya adalah hasil suap. Menurutnya, uang itu pemberian dari panitia kegiatan Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) Internasional yang diselenggarakan pemerintah kerajaan Arab Saudi.

"Itu pemberian seorang panitia terkait kegiatan Musabaqoh Tilawatil Quran Internasional. Itu dari keluarga Amir Sultan, karena rutin keluarga Raja mengadakan MTQ Internasional," kata Lukman dalam persidangan.

Jaksa pada KPK, Abdul Basir, berupaya menggali motif Lukman menerima dan menyimpan uang yang bernilai hampir setengah miliar rupiah itu. Sebab, pemberian uang itu menyangkut hubungan Arab Saudi dan Indonesia. "Boleh jadi bisa mempengaruhi hubungan Indonesia dengan Arab," kata Basir.

Menurut Lukman, uang 30 Dolar AS itu berasal dari dua pejabat Kedutaan Besar Arab Saudi, yaitu mantan Atase Agama Kedutaan Besar Arab Saudi, Syekh Ibrahim Sulaiman al-Nughomsy dan Kepala Atase Bidang Keagamaan Kedubes Arab Saudi, Syekh Saad bin Husein an-Namasi. Keduanya memberikan uang itu saat berkunjung ke kantor Kementerian Agama.

"Bukan dari orang lain? Ini banyak loh Pak Menteri. Ini kalau dirupiahkan banyak, Pak Menteri. Kalau betul, ngasihnya di mana?" ujar jaksa KPK lagi. "Iya, iya saya tentu tahu itu banyak. Itu (dikasih) di ruang kerja saya," jawab Lukman.

Baca: Begini Reaksi Vanessa Angel saat Dengar Vonis 5 Bulan Penjara

Kata Lukman, pihak Kedubes Arab Saudi itu merupakan panitia dalam kegiatan MTQ Internasional yang digelar di Jakarta. Mereka merasa puas terhadap penyelengaraan MTQ internasional sehingga ingin memberikan hadiah kepada Lukman.

"Tradisi di Arab, kalau senang bisa kasih hadiah. Dia bilang saja, terserah mau digunakan untuk khairiyah, kebajikan. Itu pertengahan atau akhir tahun lalu. Bahkan, saya lupa masih menyimpan Dolar itu," tambahnya.

Menurutnya, pemberian uang itu dilakukan di ruang kerjanya selaku Menteri Agama. Ia mengaku semula sempat menolak pemberian uang itu. "Awalnya saya tidak terima, dia memaksa, saya terima," kata Lukman.

Juru bicara KPK Febri Diansyah menyatakan Lukman seharusnya melaporkan penerimaan uang 30 ribu Dolar dari pihak Arab Saudi itu kepada KPK karena berhubungan dengan jabatannya sebagai Menag.

"Kalau memang uang tersebut diterima dalam hubungan jabatan seorang penyelenggara negara, semestinya paling lambat dalam waktu 30 hari kerja sudah dilaporkan ke KPK. Saya kira ini pengetahuan yang secara umum dipahami para penyelenggara negara," kata Febri.

Febri menceritakan, Lukman Hakim selaku Menteri Agama baru sekali melaporkan penerimaan dugaan gratifikasi, yakni sebesar Rp 10 juta ke KPK. Lukman menerima uang itu dari Kakanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur Haris Hasanuddin pada 9 Maret 2019. Namun, Lukman baru melaporkan penerimaan uang itu seminggu setelah Haris Hasanuddin terjaring operasi tangkap tangan (OTT) pihak KPK.

Baca: Ini yang Dilakukan Jokowi dan Prabowo saat MK Putus Sengketa Pilpres

Febri belum mengetahui apakah Lukman juga telah melaporkan penerimaanm uang 30 ribu ke Direktorat Gratifikasi KPK. "Apakah ada laporan yang USD 30 ribu, nanti kita simak saja di proses persidangan," tuturnya.

Dalam kasus ini, Haris didakwa menyuap mantan Ketua Umum PPP Romahurmuziy atau Romy dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Haris memberikan uang Rp 325 juta kepada Romy dan Lukman Hakim.

Menurut jaksa, pemberian uang itu patut diduga karena Romy dan Lukman Hakim melakukan intervensi baik langsung maupun tidak langsung terhadap proses pengangkatan Haris sebagai Kepala Kanwil Kemenag Jatim. Sebab, Haris saat itu tak lolos seleksi karena ia pernah dijatuhi sanksi hukuman disiplin.

Dalam surat dakwaan Haris juga disebutkan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin turut menerima uang sebesar Rp70 juta dari Haris, secara bertahap masing-masing Rp 50 juta dan Rp 20 juta.

Selain Menteri Lukman Hakim Saifuddin, jaksa pada KPK juga menjadwalkan menghadirkan saksi mantan Ketua Umum PPP sekaligus anggota DPR, Muhammad Romahurmuziy alias Rommy dan Gubernur Jawa Timur sekaligus mantan Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa. Namun, hanya Rommy yang bisa dihadirkan ke ruang persidangan. Sementara, Khofifah kembali tidak memenuhi panggilan sebagai saksi dengan alasan tengah melangsungkan resepsi pernikahan putrinya di Surabaya.

Selain itu, jaksa pada KPK juga menjadwalkan menghadirkan saksi seorang ulama Asep Saifuddin Chalim, Kepala Bidang Penerangan Agama Islam Zakat dan Wakaf, Zuhri, pejabat Kemenag Mochamad Mukmin Timoro, Panitia Seleksi Jabatan Pimpinan Tinggi Kemenag Khasan Effendi, dan Sudwidjo Kuspriyomurdono. (tribun network/gle/kcm/coz)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved