Torang Kenal

Benedicta Lolong : Melestarikan Budaya Lewat Tarian Perang

Ia adalah penari Kawasaran Wanita yang saat ini masih menimba ilmu di Universitas Negeri Manado Jurusan Kesejahteraan Keluarga Semester 2

Benedicta Lolong : Melestarikan Budaya Lewat Tarian Perang
istimewa
Benedicta Lolong : Melestarikan Budaya Lewat Tarian Perang 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Tarian Kawasaran identik dengan teriakan dan pedang pada umumnya hanya diikuti oleh pria saja, tetapi lain halnya dengan gadis kelahiran Tomohon 4 Januri 1999 Benedicta Lolong (20).

Ia adalah penari Kawasaran Wanita yang saat ini masih menimba ilmu di Universitas Negeri Manado Jurusan Kesejahteraan Keluarga Semester 2.

Benedicta Lolong sapaan akrabnya Dicta mengatakan dirinya sudah dari kecil mengenal tarian kawasaran karena keluarganya taat dan sangat menghormati budaya Minahasa.

“Dari kecil memang sudah kenal dengan tarian kawasaran karena keluarga sangat taat dan sangat menghormati budaya. Apalagi kakek kami adalah salah satu Tonaas Wangko di Minahasa, sehingga kecintaan akan budaya memang sudah mendarah daging di keluarga kami, mulai dari Tarian Maengket, Tarian inkulturasi Zazanian sampai Kawasaran sudah menjadi bagian yang memang seharusnya saya pertahankan” ungkap Dicta yang gemar makan Tinutuan.

Dicta mulai mendalami tarian kawasaran sejak 2017 karena terinspirasi dari sang kakak.

Baca: VIDEO VIRAL Pelajar SMP Pesta Lem di Kamar, Endingnya Ada Siswi Ciuman

Baca: Video Panas Siswi dan Gurunya Tersebar, Ternyata Berhubungan Intim Sejak 3 Tahun Silam

Baca: Sosok Rocky Gerung, Terungkap Alasan Usia 60 Masih Jomblo hingga Sumber Uangnya

“Saya mulai mendalami tarian kawasaran sejak tahun 2017, terinspirasi langsung dari kakak laki-laki saya yang anggota kawasaran dan juga seorang waraney,” ungkap Dicta yang adalah anggota dari Sanggar Kawasaran Mahsambureyrey kelompok Siow Kentur.

Sanggar Kawasaran Mahsambureyrey selalu menjadi favorit.

“Sanggar kami selalu menjadi favorit karena masih mempertahankan keaslian dari tarian kawasaran itu sendiri, sejak tahun 1971 sampai saat ini,” ungkapnya.

“Sanggar kami masih berkarya dan sebagai generasi ke 3 kami bertanggung jawab untuk terus melestarikan kekayaan seni budaya ini, bahkan sudah berkembang sampai keluar daerah” imbuh gadis berumur 20 tahun.

Dengan menghormati budaya itu sama saja sudah melestarikan budaya itu sendiri kata Dicta.

“Melestarikan budaya bukan berarti kita harus ikut kawasaran ato tarian-tarian lainnya baru bisa dianggap melestarikan budaya. Dengan menghormati budaya kita sudah ikut ambil andil dalam melestarikan budaya,” ungkap anak ketiga dari tiga bersaudara ini.

Pasangan Benny Lolong dan Shirley Wattimena berpesan kepada kita semua adalah mulailah belajar tentang budaya asli tanah kelahiran dan kenalkan kepada orang banyak tentang budaya kita ini.

Harus menghormati para tetua adat, ikut menjaga peninggalan leluhur, dan belajar bahasa daerah. Akhir kata dari Benedicta adalah jangan lupa untuk beragama dan berbudaya. (dio).

Baca: Ahok BTP Angkat Suara Soal Foto Makan Bareng Todung Mulya Lubis & Pimpinan KPK

Baca: Guru Agama Cabuli Siswi SD, Alasannya Biar Korban Cepat Dewasa, Terungkap Berkat Hal Ini

Penulis: David Lalujan
Editor: Maickel_Karundeng
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved