Breaking News:

Pesta Kesenian Bali Ke 41, Seni Bisa Menyatukan

Gubernur Bali I Wayan Koster melaporkan, PKB ini diikuti 4.370 peserta dari 9 kabupaten/kota se-Bali, 10 provinsi dan 5 negara sahabat.

Editor: Sigit Sugiharto
Basuki
Gadis gadis cantik menari gemulai menyambut Presiden Jokowi dalam Pesta Kesenian Bali di Lapangan Puputan Margarana,Niti Mandala, Denpasar, Sabtu (16/06/2019). 

Yang pertama, “ancaman” tersebut datang dari dalam; maksudnya, ancaman berasal dari masyarakat Bali sendiri yang semakin pragmatis.

Di masa lampau, apabila suatu keluarga mengadakan hajatan, maka budaya gotong royong mewarnai kesuksesan hajatan tersebut.

Para wanita akan datang “ngayah”, membuat perlengkapan sesaji, sementara para pria bekerja sama membuat lawar, babi guling dan sebagainya.

“Dewasa ini, meskipun kegotong-royongan seperti itu masih ada, namun sudah agak terkikis.

Banyak keluarga yang memilih membeli saja perlengkapan persembahyangan dan memesan makanan pada catering-catering yang mulai bermunculan.

Peserta dari Kabupaten Karang Asem.
Peserta dari Kabupaten Karang Asem. (Basuki)

Tampaknya kebiasaan baru ini terasa lebih praktis dan tidak merepotkan orang-orang sebanjar, namun harga yang harus dibayar adalah memudarnya budaya gotong-royong,” nilai Dhenok.

Yang kedua, kata Dhenok yang juga penulis kumpulan puisi “2 Batas Cakrawala” ini, “ancaman” terhadap budaya Bali bisa datang dari luar.

Sebagai daerah pariwisata nomer 1 di Indonesia, banyak sekali pendatang di Bali. Mereka tak hanya berwisata, namun juga mencari nafkah.

Para pendatang dari luar ini, tentu membawa masuk budaya dan kepercayaan mereka.

Hal tersebut boleh-boleh saja, apalagi bagi masyarakat Bali yang rasa toleransinya begitu tinggi.

Sayangnya, hal baik tersebut akhir-akhir ini bergeser menjadi “ancaman”, manakala sekelompok pendatang menuntut terlalu banyak.

Misalnya saja, pernah ada wacana untuk “merombak” pakaian penari Bali menjadi pakaian tari yang syari’i.

Hal ini diwacanakan karena adanya tuntutan dari para pendatang.

Apalagi hal tersebut benar-benar terjadi, maka tari Bali kehilangan ke-Bali-annya.

Hal lain, pada hari Raya Nyepi, apabila bertepatan dengan hari ibadah agama lain, maka umat agama lain diperbolehkan tetap pergi ke rumah ibadah masing-masing.

Bagi sebagian orang, hal tersebut dianggap wajar dan merupakan ujud dari toleransi beragama.

Namun bagi sebagian yang lain, hal itu menjadi pertanyaan besar, siapa bertoleransi pada siapa.

“Tak bisakah para pendatang yang bertoleransi pada umat Hindu sehari saja, beribadah di rumah masing-masing dan tak usah pergi ke gereja atau ke masjid?

Mengapa para pendatang menuntut terlalu banyak dan merasa berhak untuk mendapat perlakuan istimewa di hari besar orang Bali?” ujar Dhenok setengah menanya.

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi (InfoBadung)

Tiga Yang Belum

PKB dihelat pertama kali pada pada 20 Juni 1979.

Pesta seni ini merupakan buah ide cemerlang Prof Dr Ida Bagus Mantra, gubernur Bali periode 1978-1988.

PKB perlu diapresiasi karena sudah menjadi pesta rakyat yang berlangsung secara massal dan ajeg.

“Mengapa kita perlu bersyukur? Karena, tidak hanya banjar-banjar dan kelompok-kelompok dan sekehe-sekehe seni, baik yang di desa maupun di kota, serta universitas-universitas dan sekolah-sekolah sudah terlibat, tapi pesta seni massal terbukti bisa berjalan reguler dan bertahan cukup lama.

Bayangkan, ada banyak propinsi lain, dengan pengecualian Kabupaten Banyuwangi, Jatim, diselenggarakannya pesta seni yang bersifat massal dan reguler, acap masih sebatas angan,” ujar pegiat media I Gede Joni Suhartawan.

Namun, Gede yang pernah menjadi Ketua Panitia Festival Wayang Internasional di Gianyar, Bali melihat, ada 3 hal yang belum dikerjakan di PKB.

Pertama, PKB belum menghasilkan karya monumental.

Kedua, PKB belum menjadi ajang “pertemuan/dialog” antara seniman level maestro dengan generasi muda.

Ketiga, PKB belum mengangkat harkat seniman individu, kelompok, maupun desa untuk dikelola menjadi pusat-pusat pengajaran/pewarisan seni budaya.

Contoh kecil, Gambuh Sesetan yang hilang hanya karena tidak mempunyai lahan tempat berlatih berikut perangkat tabuh yang tidak diteruskan.

Katanya, “Prof. Mantra telah memberikan fondasi dan petunjuk yang kuat benderang.

Kita tahu, dresta, yang wadag, itu pasti berubah. Tetapi, rta itu ajeg, immortal. Karena itu, kitalah sekarang yang harus mampu menerjemahkan gagasan-gagasan Prof. Mantra sehingga kesenian Bali tetap bisa menjaga lokalitas sekaligus universalitasnya.”

Penulis (Basuki) bisa dihubungi di: basuki_cakbas@yahoo.com

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved