Diskusi Kebangsaan GMIM Efrata Kamasi

Diskusi Kebangsaan GMIM Efrata Kamasi: Kemajemukan Adalah Keniscayaan, Manusia Adalah Citra Tuhan

Dikusi kebangsaan dengan tema: Kemajemukan di Tengah Perbedaan, digelar di Gereja GMIM Efrata Kamasi, Sabtu (15/6/2019).

Diskusi Kebangsaan GMIM Efrata Kamasi: Kemajemukan Adalah Keniscayaan, Manusia Adalah Citra Tuhan
TRIBUNMANADO/DAVID MANEWUS
GMIM Efrata Kamasi Buat Diskusi Kebangsaan 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Dikusi kebangsaan dengan tema Kemajemukan di Tengah Perbedaan, digelar di Gereja GMIM Efrata Kamasi, Sabtu (15/6/2019).

Diskusi ini diselenggarakan dalam rangka HUT Ke-10 dan Pentahbisan Gereja GMIM Efrata Kamasi, Kamasi Satu Wilayah Tomohon Dua, Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara.

Dalam diskusi tersebut, Sekretaris Daerah Kota Tomohon Harold Lolowang selaku salah satu panelis menjelaskan tentang hakikat masyarakat majemuk. 

Menurutnya, di dalam masyarakat majemuk ada perbedaan yang selalu menemukan titik temu. Ia mengambil contoh tentang keberadaan Kampung Jawa di Kota Tomohon.

Sementara itu Pendeta Dr Henriette Tabita Lebang, M.Th membahas lebih jauh tentang makna dari kemajemukan.

Dalam paparannya, Henriette menyebut kemajemukan adalah keniscayaan. Bahkan, kata dia, dalam keluarga pun perbedaan tersebut terlihat. 

Baca: Dua Bulan Tidak Pulang, Istri Sah Ajak Polisi Ciduk Suami Selingkuh di Indekos, 2 Tahun Kumpul Kebo

Baca: Ini Penyebab ILC TV One Istirahat Tayang Setelah Pilpres 2019

Baca: Berkarisma dan Misterius, 5 Zodiak Ini Sering Jadi Idaman Orang Lain

Maka seharunya perbedaan identitas suku, budaya serta latar belakang sosial tidak menjadi penghalang dalam hidup bermasyarakat. 

"Di GMIM saja berbeda-beda. Misalnya antara di kota dan desa, sehingga pendeta harus mempelajari. Kita tidak boleh taken for granted dan mengangapnya persoalan," katanya.

Perbedaan tidak seharusnya menjadi stigma yang kemudian memunculkan prejudice (menghakimi). Karena sejatinya, kata Henriette, manusia adalah citra Tuhan.

"Tuhan itu baik tapi rahmat bagi semua ciptaan-Nya. Karena itu tidak boleh merusak alam demi kepentingan pribadi," ujarnya.

Lebih lanjut, ia kemudian menjelaskan kisah Petrus yang yakin bahwa Tuhan tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan bentuk fisiknya. Tuhan mengasihi semua orang.

Dalam paparannya itu, Henriette juga menyinggung soal pentingnya menghayati Pancasila sebagai dasar negara. Pancasila, kata Henriette, menjadi wadah membangun kesatuan dalam kemajemukan.

Dia mengingatkan pentingnya membangun persatuan.

"Kita bangun itu mulai dari keluarga. Teknologi komunikasi menjadi bahaya jika digunakan salah. Karena itu saya setuju ada gerakan tidak menggunakan hand phone di waktu tertentu. Itu waktu untuk menceritakan perbedaan untuk persatuan," tandasnya. (tribunmanado.co.id/David Manewus)

Baca: Inilah Para Panelis Dalam Diskusi Kebangsaan di GMIM Efrata Kamasi

Baca: GMIM Efrata Kamasi Gelar Diskusi Kebangsaan, Elly Lasut : Bangun Karakter Roh

Penulis: David_Manewus
Editor: Rizali Posumah
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved