Hasil Survei Terbaru, Begini Dampak dan Bahayanya Hoax, Jadi Musuh Nomor Satu

Ternyata berita palsu atau hoax bukan hanya menjadi persoalan serius di Indonesia, melainkan di Amerika Serikat (AS)

Hasil Survei Terbaru, Begini Dampak dan Bahayanya Hoax, Jadi Musuh Nomor Satu
tribun jambi
Logo Hoax 

TRIBUNMANADO.CO.ID, AS -  Ternyata berita palsu atau hoax bukan hanya menjadi persoalan serius di Indonesia, melainkan di Amerika Serikat (AS) hoax sudah sangat meresahkan masyarakat.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan bersama Co-Founder dan Chief Technology Officer Qlue Andre Hutagalung saat menjadi pembicara pada Konferensi Pers Smart Citizen Day untuk Mewujudkan Smart Nation di Press Room Kementerian Kominfo, Jakarta Pusat, Rabu (20/3/2019). Smart Citizen Day nantinya akan menghadirkan kisah inspiratif dari 19 pembicara kunci lintas sektor yang akan memberikan inspirasi. Nantinya, perayaan puncak deklarasi dan selebrasi untuk mendukung gerakan masyarakat pintar ini akan diselenggarakan pada 28 Maret 2019.
Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan bersama Co-Founder dan Chief Technology Officer Qlue Andre Hutagalung saat menjadi pembicara pada Konferensi Pers Smart Citizen Day untuk Mewujudkan Smart Nation di Press Room Kementerian Kominfo, Jakarta Pusat, Rabu (20/3/2019). Smart Citizen Day nantinya akan menghadirkan kisah inspiratif dari 19 pembicara kunci lintas sektor yang akan memberikan inspirasi. Nantinya, perayaan puncak deklarasi dan selebrasi untuk mendukung gerakan masyarakat pintar ini akan diselenggarakan pada 28 Maret 2019. (Tribunnews/Jeprima)

Karena itu, hukuman yang berat harus diberikan kepada warga yang secara sadar membuat dan menyebarkan hoax.

Hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan, separuh orang dewasa Amerika mengatakan berita palsu alias hoaks adalah masalah yang lebih besar daripada rasisme, terorisme, atau perubahan iklim.

Survei oleh Pew Research Center, yang dirilis Rabu (5/6/2019), menemukan bahwa sekitar 50 persen dari mereka yang mengikut jajak pendapat mengatakan berita palsu adalah "masalah yang sangat besar" di Amerika.

Sebagai perbandingan, sebanyak 46 persen menyebut perubahan iklim sebagai "masalah yang sangat besar"; 40 persen mengatakan hal yang sama tentang rasisme dan 34 persen mengatakan hal yang sama tentang terorisme.

Sekitar 68 persen dari 6.000 orang yang ditanyai dalam jajak pendapat mengatakan berita palsu memengaruhi kepercayaan mereka terhadap lembaga pemerintah.

Sebagian besar dari mereka, sekitar 57 persen, mengatakan mereka menyalahkan para politisi dan staf mereka atas adanya berita dan informasi palsu itu.

Jumlah itu jauh lebih banyak daripada mereka yang menyalahkan media, yaitu sebanyak 36 persen.

Sebanyak 53 persen menyalahkan para aktivis.

Tetapi kebanyakan dari mereka juga percaya bahwa wartawan, bukan politisi, bertanggung jawab memperbaiki masalah itu.

Sekitar 53 persen mengatakan tanggung jawab memperbaiki krisis berita palsu ada pada wartawan, tetapi mengatakan masyarakat sendiri yang paling bertanggung jawab untuk menguranginya.

Dari 52 persen orang Amerika yang mengatakan mereka sendiri telah menyebar berita palsu.

Sebagian besar mengaku ketika menyebar berita itu, mereka tidak tahu bahwa itu berita palsu.

Editor: Hasanudin Aco

Editor: Aswin_Lumintang
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved