Berita Ramadan

Presiden Joko Widodo Menggelar Open House, Para Menteri dan Tokoh Nasional Ngantre untuk Silaturahmi

Presiden RI Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana serta Wakil Presiden Jusuf Kalla dan istri Mufidah Jusuf Kalla menggelar Open House Di istana Merdeka.

Presiden Joko Widodo Menggelar Open House, Para Menteri dan Tokoh Nasional Ngantre untuk Silaturahmi
Ria Anatasia/Tribunnews.com
Para Tokoh Nasional mengantre untuk silaturahmi dengan Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (5/6/2019). 

Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono menuturkan acara silaturahmi khusus masyarakat umum dibuka sejak pagi hari.

"Open House dibuka untuk masyarakat pukul 10.00-12.00 WIB. Setelah itu Pak Presiden ada acara berikutnya. Jadi mungkin selesai paling lambat pukul 12.30 WIB acara sudah selesai," ucap Heru saat dihubungi wartawan, Selasa (4/6/2019).

Pihaknya memperkirakan setidaknya bakal ada tiga ribu masyarakat yang bisa memanfaatkan momen tersebut untuk bersalaman langsung dengan orang nomor satu di Republik ini.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com

Baca: Pemuda 24 Tahun Meninggal, 40 Pacarnya Melayat, Suasana Panik saat Dokter Umumkan Penyakit HIV/AIDS

Manfaat Saling Memaafkan Saat Idul Fitri

Momen Lebaran atau hari raya Idul Fitri merupakan waktu di mana kita bertemu sanak keluarga, teman, dan kenalan yang telah lama tidak jumpai.

Di waktu ini pula, kita saling menjemput maaf atas segala kesalahan yang telah kita perbuat, baik sengaja ataupun tidak.

Namun, apakah tradisi tahunan ini hanyalah sebuah rutinitas belaka? Pernahkah kita memikirkan sejenak mengenai makna dari ritual ini? Apakah kita sudah benar-benar memaafkan? Maaf adalah konsep yang universal dan dapat ditemukan di berbagai kepercayaan serta aliran pemikiran sepanjang masa yang tersebar di berbagai penjuru.

Semua ajaran tersebut menempatkan sikap memaafkan sebagai suatu bentuk kebaikan.

Saat seseorang diperlakukan tidak adil, maka orang tersebut perlu berjuang untuk melawan niatan dendam yang timbul akibatnya, berusaha untuk memaafkan, bahkan menggunakan pengalaman tersebut untuk menolong dan melawan ketidakadilan yang dijumpainya.

Memaafkan tidak berarti menyetujui, membenarkan, membiarkan, atau melupakan kesalahan yang telah diperbuat orang lain terhadap kita.

Halaman
1234
Editor: Gryfid Talumedun
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved