Renungan Ramadan: Puasa dan Fatwa 'Gelap' Pasca Pilpres

Ramadhan hendaknya menjadi sarana yang ampuh untuk mengajarkan kepada umat tentang pentingnya kebersamaan dan persatuan

Renungan Ramadan: Puasa dan Fatwa 'Gelap' Pasca Pilpres
Facebook
Dr Ahmad Rajafi M HI 

Ramadhan dan Fatwa "Gelap" Pasca Pilpres

Oleh Dr Ahmad Rajafi M HI

Dosen IAIN Manado

Tidak terasa bulan Ramadhan 1440H/2019M, dengan segala kewajiban dan pahala di dalamnya akan segera berakhir dan meninggalkan umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Akan tetapi ada fenomena unik di bulan Ramadhan tahun ini di bumi Indonesia, di mana kesibukan rutinitas tahunan yang biasanya ramai memenuhi ruang-ruang media sosial dalam mengisi hari-hari di bulan Ramadhan dengan nasihat-nasihat keagamaan, sepertinya memudar akibat pengaruh politik pasca pemilihan Presiden 17 april yang lalu.

Suasana Ramadhan kali ini juga semakin unik, karena semakin banyaknya para orator (pendakwah) muslim yang mengisi ruang-ruang publik dan media sosial.

Dan yang menariknya, para orator saat ini seperti keluar dari maqam-nya dengan mengeluarkan fatwa-fatwa "gelap" yang tidak diketahui asal usulnya, baik konten maupun person pemberi fatwa, yang kemudian mendiskreditkan fisik, kemampuan personality, bahkan agama, demi kepentingan politik praktis mereka.

Biasanya, forum yang paling ramai digunakan adalah pada saat khutbah Jum’at, ceramah Ramadhan, kuliah Subuh Ramadhan, dsb.

Semangat tersebut sepertinya terus berlangsung dan bahkan lebih"bergairah" pasca pengumuman pemenang pilpres oleh KPU di tanggal 21 Mei yang lalu.

Baca: Dilamar Sang Kekasih, Lucinta Luna Menangis Haru Dapat Kejutan

Baca: Wanita Ini Jual Nissan Grand Livina Beserta Dirinya, Harganya Capai Segini, Idenya Berasal dari Sini

Baca: Pastikan Kematian Cinta Mumek, Polisi Lakukan Otopsi Mayat Cinta di RS Bhayangkara Manado

Bayangkan, dalam satu hari saja muncul berbagai forum-forum pengumpul masa yang efektif untuk digunakan sebagai alat politik, belum lagi spanduk dan selebaran-selabaran yang bernuansa religis namun substansinya adalah kepentingan politik praktis.

Halaman
1234
Editor: Sigit Sugiharto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved