Breaking News:

Psikologi

Menurut Ahli Kejiwaan Orang yang Suka Bergosip Seperti Ini

Saat berkumpul dengan teman, biasanya Anda akan mengobrol tentang banyak hal.

Editor: Rizali Posumah
THINKSTOCK.COM
Ilustrasi 

TRIBUNMANADO.CO.ID – Saat berkumpul dengan teman, biasanya Anda akan mengobrol tentang banyak hal. 

Sering obrolan malah berujung membicarakan orang lain alias bergosip.

Rasanya sih kita memang berdiskusi dan bertukar pendapat, tapi sekali lagi topik pembicaraannya biasanya orang lain (dan itu sama dengan bergosip!)

Tapi kalau dibilang bergosip membuat kita bahagia, setujukah?

Dilansir dari Nova, sebuah studi yang diterbitkan dalam Social Psychological and Personality Science menyatakan bahwa umumnya seseorang menghabiskan waktu rata-rata 52 menit per hari untuk bergosip.

Gosip jadi pilihan kegiatan yang menyenangkan dilakukan, terutama saat orang yang jadi topik pembicaraan sedang tak ada.

Baca: Jangan Kalap, Ini Hidangan Lebaran Tinggi Kalori yang Harus Anda Hindari

Baca: Gosip Tak Selalu Buruk, Ini Alasan Psikologis Soal Kegemaran Ngomongin Orang

Baca: Pekerja Tuntut Perusahaan Rp 930 Juta Gara-gara Dipecat, Psikologisnya Tertekan Tak Terima Kenyataan

Dan isi pembicarannya bukan soal menyebarkan kabar buruk atau rumor ya, tapi sekedar bertukar informasi.

Misalnya, Anda cerita ke teman kerja kalau tetangga Anda baru saja beli mobil baru.

Atau sesederhana soal teman masa kecil Anda yang akan segera menikah bulan depan.

Studi baru tadi mendapati bahwa selama 52 menit tadi, informasi yang dipertukarkan sebetulnya tidak berbahaya (malah cenderung membosankan).

Jadi bukan soal si bos sedang dekat dengan karyawan yang duduk di kubikel tengah.

Lantas, kenapa juga kita menghabiskan 52 menit tadi dengan menggosipkan hal-hal yang tak penting?

Mark Leary, PhD, profesor psikologi dan ilmu saraf di Universitas Duke yang mengambil spesialisasi dalam psikologi sosial dan pribadi menjelaskan pada Health.

Bergosip adalah insting dasar manusia karena kehidupan kita berakar dalam kelompok.

Tak hanya hidup berkelompok, kita pun bergantung pada orang-orang dalam kelompok untuk bertahan hidup.

“Sehingga, mereka perlu memiliki informasi sebanyak mungkin tentang orang-orang yang ada di sekitarnya.

"Ini untuk mengetahui seperti apa orang-orang lain, siapa yang bisa dan tak bisa dipercaya, siapa yang melanggar aturan kelompok, siapa yang berteman dengan siapa, apa kepribadian dan sudut pandang orang lain, dan sebagainya,” jelas Mark.

Misalnya, saat masih kecil, bergantung pada orangtua untuk makanan dan tempat tinggal.

Baca: Pandangan Psikologi Terkait Maraknya Bullying Pada Anak

Baca: Ini Dampak Psikologis yang Jadi jika Seseorang Kalah Pemilu 2019

Baca: Pakar Psikologi Politik Sebut Prabowo Kurang Mampu Mengendalikan Emosi: Itu karakter, Sulit Diubah.

Atau kita bergantung pada pihak manajemen di kantor, mungkin untuk uang dan asuransi kesehatan.

Jadi, saat seorang teman kerja bilang kalau si bos mau memecat orang, kita pasti langsung mencari pekerjaan lainnya.

Jadi bergosip adalah cara kita bertahan hidup.

Bergosip untuk bertahan hidup sama tuanya dengan manusia itu sendiri.

"Gosip tidak hanya mengajarkan kita tentang orang yang menjadi subjek pembicaraan, tetapi juga tentang orang yang berbicara," kata Mark.

“Dari siapa dan apa yang Anda gosipkan, saya bisa belajar hal-hal tentang sikap, apa yang Anda percaya, dan cara Anda berurusan dengan orang lain.”

“Bahkan jika saya tidak terlibat dalam kegiatan bergosip, hanya dengan mendengarnya saja saya bisa tahu apa yang mereka anggap penting, apakah mereka bisa dipercaya untuk menyimpan rahasia, dan sebagainya,” pungkas Mark.

Wah, bisa dipraktikkan tuh.

Lain kali kalau ada yang bergosip, bagaimana kalau kita memperhatikan saja?

Malah kita jadi bisa belajar soal orang-orang yang bergosip itu! Hehe. (*)

Artikel ini telah tayang di Nova dengan judul Sulit Dipercaya, Ini Kejiwaan Orang Saat Bergosip, Apa Kata Ahli?

Sumber: Nova
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved