Mutiara Ramadan

Membaca Pemikiran Sultanun Aulia Syekh Abdul Qadir Al-Jilani Tentang Lailatul Qadar

Allah justru menurunkan sesuatu yang istimewa di suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Membaca Pemikiran Sultanun Aulia Syekh Abdul Qadir Al-Jilani Tentang Lailatul Qadar
(artscenegallery.com)
Ilustrasi 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Allah justru menurunkan sesuatu yang istimewa di suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Malam itu, suasana sunyi, tenang, lengang. Angin merespons dengan semilirnya.

Sejumlah malaikat turun ke langit dunia pada malam itu untuk menuntaskan berbagai perkara manusia.

Ada pula yang bertugas membawakan sejumput keberkahan dari Tuhannya.

Mereka turun berbaris memadati langit dunia sembari merapalkan tasbih, tahmid, dan tahlil.

Malam itu tak seperti biasanya. Malam luar biasa yang tak seorang pun tahu tepatnya.

Hanya saja dianjurkan bagi siapa yang berharap kebaikan dan kemuliaannya untuk menghadang malam dengan penghambaan dan pujian seriuh-riuhnya.

Tulisan Khairul Imam, Staf Pengajar di Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) An Nur Yogyakarta di Gana Islamika ini membahas bagaimana saat membincangkan Lailatur Qadr, Syekh Abdul Qadir Al-Jilani berangkat dari pembacaannya terhadap Alquran.

Singgungan tentang keutamaan malam itu sudah dimulai ketika membuka tafsiran bismillahirrahmanirrahim:

Dengan nama Allah yang telah menentukan berbagai takdir makhluk di dalam hadirat ilmu-Nya dan lembaran ketetapan-Nya dengan diturunkannya Alquran kepada hamba-Nya.

Halaman
1234
Editor: Rizali Posumah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved