Opini

Manuver Pesawat Rongsokan Israel

Israel mengerahkan semua kekuatan untuk berperang dengan Mesir. Kehadiran pesawat-pesawat spitfire terbukti memang sangat membantu.

Manuver Pesawat Rongsokan Israel
Facebook
Jannus T Holomoan Siahaan 

Bagi yang memaksa pergi, akan dicabut kewarganegaraannya.

Truman sudah cukup yakin kalau pendirian negara Israel tak akan pernah mulus, karena dunia Arab akan melibasnya.

Cilakanya, dunia Arab kebanyakan adalah sekutu Amerika.

Yang lebih berat lagi, Amerika mengembargo segala jenis pengiriman bahan dan barang untuk perang ke Israel, dari negara manapun.

Untungnya di Amerika, ada Al Schwimmer, seorang insinyur penerbangan, yang bersedia merogoh kocek dan membeli selusin pesawat C46 bekas perang dunia kedua dan beberapa konstelasi untuk memperbaikinya.

Pascaperang, pesawat-pesawat tempur Amerika berjejer tak jelas di beberapa lapangan.

Dengan memakai tangan para veteran, selusin lebih pesawat c46 bisa dibeli oleh Al Schwimmer.

Pesawat-pesawat tersebut harus diperbaiki terlebih dahulu.

Dan Al Schwimmer menempatkannya di salah satu daerah di California, sembari memperbaiki dan melakukan beberapa pembukaan lowongan secara rahasia untuk pilot keturuan Yahudi.

Oleh karena itu, sampai hari ini Al Schwimmer dikenal sebagai salah seorang pendiri angkatan perang Israel.

Sebenarnya, pesawat C46 bukanlah pesawat kombat tempur, ukurannya besar mirip hercules.

Niatnnya memang untuk membawa sebanyak mungkin pilot keturunan Yahudi di Amerika, atau relawan-relawan yang siap bertempur untuk Israel.

Untuk mendapatkan para penerbang, salah seorang relawan suruhan Al Schwimmer mencuri data pilot angkatan udara Amerika, lalu mencari nama-nama yang terindikasi sebagai nama orang Yahudi.

Satu persatu nama tersebut ditelepon, sebagian besar di antarannya siap untuk berjuang.

Masalahnya tak semudah itu. Embargo segala bentuk penerbangan ke Israel bukan kebijakan yang main-main.

Untuk menerbangkan pesawat C46 langsung ke Israel tentu berisiko.

Selain karena Inggris masih bertahan di Israel, pesawat bisa dicegat di bandara Amerika karena berniat menuju negara baru Yahudi tersebut.

Untunglah ada salah satu pilot yang berteman dengan anak presiden Panama.

Kontak pun dilakukan. Panama siap membuka bandaranya untuk pesawat-pesawat relawan tersebut sementara waktu.

Agar tak dicurigai, semua pesawat diganti merek dengan nama airlines Panama.

Setelah bersitegang sedikit dengan pihak bandara California, pesawat-pesawat tersebut akhirnya bisa terbang.

Istirahat beberapa hari di Panama, pesawat terus menyusuri beberapa negara di Amerika Latin, lalu terus ke Roma.

Ada base Haganah di Roma, tapi mayoritas pilotnya adalah relawan dari berbagai negara yang berpengalaman di perang dunia kedua.

Setelah melakukan lobby ke banyak tempat, Al Schwimmer berhasil mendapatkan negara yang bersedia melawan embargo Amerika, yakni Cekoslovakia.

Negara ini lebih butuh uang dollar dari para Yahudi ketimbang harus takut pada Amerika.

Ceko menawarkan beberapa Messerschmitt 109 bekas teknologi Jerman kepada para pilot relawan yang dibawa Al Schwimmer.

Banyak di antaranya harus dirakit ulang, onderdilnya diselang seling asal jadi.

Bahkan, para relawan kaget, pesawat bekas, kerap mereka sebut dengan rongsokan, ternyata bisa terbang.

Dan di Ceko, Jerman memang pernah memiliki pabrik pembuatan pesawat M109, lalu diambil alih oleh Cekoslovakia.

Tak ada pilihan lain, Al Schwimmer dan tim C46 langsung tancap gas ke Ceko.

Beberapa pesawat diperbaiki, betuknya memang tak karuan, tapi pesawat-pesawat M109 tersebut bisa terbang dan siap tempur.

Waktu terus berjalan, sudah seminggu pascadeklarasi Israel. Perang makin berkecamuk, tak ada lagi waktu untuk latihan.

Lou Lenart menemui komandan udara Ceko dan mengatakan bahwa dia sudah tak bisa lagi menunggu, karena Israel sudah dibombardir.

Komandan tersebut bertanya, dengan apa mereka ke Israel. Lou menjawab, dengan pesawat yang diselundupkan oleh Al Schwimmer, yakni C46. Maka empat pesawat tempur jerman yang biasa dipakai angkatan udara Nazi tersebut,

Lutfwafe, dipreteli dan dimasukan ke dalam pesawat c46.

Keberangkatan pertama mampu membawa empat pesawat M109 dan sampai dengan selamat di Hangar Israel.

Namun masih butuh waktu lagi untuk dipasang kembali secara utuh.

Setelah dirakit ulang di dalam sebuah hangar yang selamat dari bom-bom pesawat spitfire Mesir, empat pesawat pertama Israel siap untuk beroperasi.

Rencana awalnya, pesawat tempur kuno tersebut disiapkan untuk melawan Yordania.

Tapi, tak lama setelah usai dirakit, datang berita bahwa pasukan Mesir sudah tinggal beberapa puluh kilometer dari Tel Aviv.

Jika tak beraksi saat itu, maka keesokan paginya 10 ribu pasukan Mesir sudah sampai di Tel Aviv dan meluluhlantakan kota tersebut.

Dua orang relawan palestina siap berangkat, Ezer Weizman dan Modi Alon.

Lalu, satu orang berkebangsaan Afrika Selatan, Eddie Cohen, dan Lou Lenart sebagai pemimpin.

Empat pesawat rongsokan bekas Jerman siap mengudara untuk yang pertama kalinya.

Mereka mengudara menuju sisi selatan Israel dan melihat ratusan truk, thank, dan artileri pasukan Mesir berjejer di jalan menuju Tel Aviv.

Lou ada di posisi politik antara ratusan ribu hidup mati warga Yahudi yang harus dia bela dan puluhan ribu tentara terlatih Mesir yang siap mewujudkan Holocoust kedua di tanah Israel.

Tak pikir panjang, sesuai dengan ciri khas pesawat tempur era itu, untuk menjatuhkan bom, pesawat akan menukik terlebih dahulu untuk mendekati target, lalu memuntahkan bom ke deretan thank dan truk militer Mesir.

Gerakan tersebut biasa dikenal dengan istilah Shema Yisrael.

Loe Lenard memimpin empat konvoi pesawat rongsok bekas Jerman.

Hasilnya, beberapa truk dan tank terjengkang, 10 ribu pasukan Mesir terkaget tak karuan.

Setelah mereka menghabiskan sebua amunisi yang dibawa, mereka kembali ke pangkalan di Tel Aviv.

Sayang, mereka tak kembali berempat lagi.

Eddie Cohen jatuh.

Besar kemungkinan bukan karena tertembak oleh lawan, tapi karena gagal menyesuaikan tembakannya dengan baling-baling pesawat M109 sehingga menembak baling-balingnya sendiri dan jatuh.

Taoi, hasil dari operasi pesawat rongsokan tersebut sangatlah besar.

Keesokan harinya, dari siaran radio Mesir diumumkan bahwa Mesir berhenti dan membatalkan operasi bumi hangus Tel Aviv karena ada serangan dahsyat dari angkatan udara Israel dengan pesawat-pesawat canggih.

Di luar kesedihan atas jatuhnya Eddie Cohen, semua embrio angkatan udara Israel tersebut bersuka cita atas sebuah operasi empat pesawat rongsokan yang dianggap serangan angkatan udara dahsyat oleh Mesir.

Model serangan yang sama juga terjadi saat pasukan Irak mendekati wilayah Israel dari sisi barat.

Dua pesawat yang dipiloti Ezer Weizman dan Milton Rubenfield diturunkan.

Bom-bom Israel menghantam arak-arakan artileri pasukan Irak dan terbilang berhasil membuat pergerakannya berhenti karena menganggap Israel memiliki angkatan udara yang membahayakan.

Gertakan-gertakan serupa beberapa kali sempat membuat takut beberapa negara Arab yang ingin meninvasi Israel, sampai terjadi gencatan senjata selama empat minggu, dimulai dari tanggal 11 Juni 1948.

Selama masa jeda, Israel mendapat kekuatan tambahan dari sukarelawan dunia. Israel kedatangan "mahal" (sukarelawan non Yahudi) sekira 3500 pasukan, 190 di antaranya adalah penerbang.

Secara psikologis, kedatangan 3.500 sukarelawan tersebut sangat berpengaruh besar.

Israel merasa tak sendirian, berbeda dengan peristiwa Hollocoust beberapa tahun sebelumnya.

Untuk itu, Modi Alon, dalam masa jeda perang, diminta untuk membenahi skuadron udara Israel.

Modi Alon adalah komandan muda, 25 tahun, yang memimpin skuadron udara utama Isreal, dengan beberapa pesawat M109 rongsokan.

Lou Lenart dan Coleman Golstein juga ada di dalamnya.

Modi Alon meminta Luo untuk menambah nomor di setiap pesawat rongsokan tersebut.

Dan lagi-lagi, nomor pun ternyata berupa gertakan, yakni 101.

Setiap pesawat diberi nomor 101 agar pihak lawan menganggap bahwa Israel memiliki lebih dari 100 pesawat tempur.

Selain penomoran, angkatan udara bar tersebut butuh logo untuk pesawatnya.

Adalah Bob Vickman dan Stan Andrew yang ditugaskan untuk membuatnya.

Kedua sukarelawan asal California tersebut pernah kuliah seni di UCLA dan membuat logo bernama "malaikat kematian".

Sampai hari ini, logo tersebut menempel di pesawat-pesawat F16 milik Israel.

Tanpa diduga, pada tanggal 8 Juli 1948, Mesir melanggar kesepatakan gencatan senjata.

Mesir tetiba menyerang Israel.

Para Yahudi terpaksa harus berjuang habis-habisan.

Tak kehilangan akal, Al schwimmer ternyata juga berhasil menyelundupkan pesawat tempur jenis B17 ke Cekoslovakia dan siap diterbangkan ke Israel.

Namun, sebelum sampai di Tel Aviv, pesawat-pesawat B17 selundupan tersebut menyempatkan diri terbang di atas langit Kairo dan menghujaninya dengan bom.

Kesan bahwa angkatan udara Israel memang sangat dahsyat semakin berkembang di pihak Mesir.

Namun bom dari pesawat B17 tak membuat Mesir mundur. Perang kian berkecamuk.

Banyak relawan yang menjadi korban.

Hal tersebut membuat Israel berpikir bahwa mereka tak bisa selamanya bergantung pada kekuatan pilot sukarelawan.

Regenerasi untuk Yahudi harus segera dilakukan.

Kemudian Israel berhasil membeli banyak pesawat spitfire dari Cekoslovakia dan menerbangkan calon-calon pilot ke negara itu untuk mendapat pelatihan.

Banyak di antara calon pilot tersebut yang ditarik ke dalam perang sebelum masa pelatihan selesai.

Di bulan Desember 1948 perang makin membesar.

Israel mengerahkan semua kekuatan untuk berperang dengan Mesir. Kehadiran pesawat-pesawat spitfire terbukti memang sangat membantu.

B17, C46, dan spitfire bahu-membahu menghantam pasukan Mesir, baik darat maupun udara.

Sampai akhirnya akhir tahun 1948 Israel berhasil mengepung pasukan Mesir di Jalur Gaza dan Mesir menyatakan diri menyerah.

Pada tanggal 7 Januari 1948, akhirnya PBB kembali mengumumkan gencatan senjata untuk kedua negara.

(Penulis adalah Pengamat Sosial Politik, Tinggal Di Pinggiran Kota Bogor)

Editor: Sigit Sugiharto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved