Tarif Dipangkas, Saham Garuda Indonesia Turun

Pemerintah memutuskan menurunkan tarif batas atas angkutan udara dengan kisaran 12%-16% untuk pesawat

Tarif Dipangkas, Saham Garuda Indonesia Turun
Istimewa
Garuda Indonesia Plane 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Pemerintah memutuskan menurunkan tarif batas atas angkutan udara dengan kisaran 12%-16% untuk pesawat bermesin jet. Hal tersebut ditanggapi investor dengan penurunan harga saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA).

Selasa (14/5), harga GIAA turun 2,93% ke level Rp 398. Penurunan harga saham ini melanjutkan pelemahan harga GIAA Senin lalu, di mana saham ini susut 5,09%.

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony menyakini harga saham GIAA turun karena kebijakan pemerintah tadi. Alasannya, harga jual tiket yang berlaku sebelumnya sudah mampu mengerek kinerja GIAA menjadi lebih baik.

Karena itu, investor perlu memperhitungkan kembali sentimen penurunan harga jual ini. Chris mempertanyakan, penurunan harga jual ini akan kembali ke harga tahun lalu atau lebih tinggi dari itu. "Jika masih naik dibanding tahun lalu maka GIAA masih layak untuk di koleksi," kata dia.

Dengan begitu, untuk saat ini Chris merekomendasikan buy on weakness saham GIAA dengan target harga Rp 350-Rp 380. Di jangka panjang, ia menargetkan harga saham perusahaan ini bisa mencapai Rp 450. Pada triwulan pertama 2019, harga angkutan udara di tingkat produsen naik 11,14%. Kenaikan ini lebih tinggi dari angkutan lain.

Suasana pelayanan konsumen di kantor Garuda Indonesia Manado, Jumat (15/2/2019).
Suasana pelayanan konsumen di kantor Garuda Indonesia Manado, Jumat (15/2/2019). (TRIBUNMANADO/FERNANDO LUMOWA)

YLKI Kritik Penurunan TBA Tiket Pesawat

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengkritik penurunan tarif batas atas tiket pesawat (TBA) udara sebesar 12-16 persen. Penurunan TBA tidak akan mudah dilakukan pada praktiknya.

Tulus Abadi menilai langkah Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menurunkan tarif batas atas tiket pesawat sebesar 12 sampai 16 persen tepat. Tulus mengatakan ini adalah bentuk respons cepat Budi Karya terhadap desakan masyarakat. Kementerian Perhubungan memiliki kompetensi dalam mengatur TBA tiket pesawat seperti diatur dalam Undang-undang tentang Penerbangan.

Namun demikian, YLKI memberikan beberapa catatan penting terkait keputusan ini. YLKI memandang langkah Menhub Budi Karya patut diduga sebagai klimaks kejengkelan Budi karya atas masih tingginya tarif tiket pesawat.

"Walau mereka (maskapai, red) belum tentu melanggar ketentuan TBA, tetap yang diharapkan, khususnya Garuda, bisa menurunkan harga tiketnya karena harga avtur sudah diturunkan," papar Tulus, Selasa (14/5).

Halaman
12
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved