Pengancam Penggal Jokowi Sempat Kabur

Polda Metro Jaya merilis penangkapan terhadap pria berinsial HS yang melakukan ancaman memenggal kepala Presiden

Pengancam Penggal Jokowi Sempat Kabur
Tribun Jambi
Pelaku ancaman 'penggal kepala Jokowi' ditangkap 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Polda Metro Jaya merilis penangkapan terhadap pria berinsial HS yang melakukan ancaman memenggal kepala Presiden Joko Widodo.

Bertempat di Mapolda Jaya, Jakarta, Senin (13/5), Wakil Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary Syam Indradi mengatakan, tersangka HS (25) sempat melarikan diri ke rumah kerabatnya di daerah Parung, Bogor, Jawa Barat, setelah video ancamannya memenggal kepala Presiden Joko Widodo viral di sosial media. "Yang bersangkutan (HS) melarikan diri setelah sebelumnya mengetahui apa yang disampaikan (dalam video) menjadi viral," kata Ade.

Diketahui HS bertempat tinggal di kawasan Palmerah, Jakarta Barat. Namun, polisi mengetahui HS melarikan diri ke rumah kerabatnya di Perumahan Metro, Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. HS melarikan diri setelah mengetahui video ancaman darinya itu telah viral di media sosial.

Akhirnya HS dapat ditemukan dan ditangkap petugas di rumah kerabatnya tersebut pada Minggu apgi, 12 Mei 2019. "Yang bersangkutan (tersangka HS) melarikan diri setelah sebelumnya mengetahui apa yang disampaikan (dalam video) menjadi viral," ujar Ade.

HS diduga melontarkan ancaman untuk memenggal kepala Presiden Jokowi saat mengikuti aksi demo di depan Gedung Bawaslu RI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada Jumat, 10 April 2019. Pernyataan ancaman oleh HS terekam video dan viral di media sosial.

Tindakannya itu dilaporkan oleh relawan pendukung Joko Widodo ke polisi. Polisi mengenakan HS dengan pasal dugaan makar karena dianggap mengancam keamanan negara. Dia dijerat Pasal 104 dan Pasal 110 KUHP.

Pasal 104 KUHP berbunyi demikian, "Makar dengan maksud untuk membunuh, atau merampas kemerdekaan, atau meniadakan kemampuan presiden atau wakil presiden memerintah, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun".

Selain itu, HS juga dijerat dengan sangkaan melakukan pelanggaran terhadap Pasal 27 ayat (4) juncto Pasal 45 Ayat (1) UU No 19 Tahun 2016 perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Dalami Kaitan Kelompok Poso

Kepada polisi, pria yang sehari-hari sebagai  karyawan di sebuah yayasan badan wakaf Al-Qur'an itu mengakui pernyataannya yang mengancam presiden itu adalah kesalahannya. Dia mengaku khilaf dan emosi. Namun, polisi masih mendalami motif sebenarnya dari HS sehingga melontarkan ancaman penggal kepala seorang kepala negara.

Apalagi, dalam video yang tersebar di media massa, HS mengaku berasal dari Poso, Sulawesi Tengah. Penyidik masih mendalami hubungan HS dengan kelompok teror di Poso

"Masih didalami (hubungan dengan kelompok Poso)," ujar AKBP Ade Ary Syam Indradi.

Selain melakukan interogasi secara mendalam terhadap HS, penyidik masih memburu penyebar dan perekam video tersebut. "Saat ini masih dilakukan pendalaman untuk motif dan latar belakangnya," tutur Ade.  (tribun network/fah/coz)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved