Proyeksi IHSG Ditentukan Pertumbuhan Ekonomi: Rupiah Masih Kesulitan

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (3/5) kembali melemah. Ketika pasar ditutup, IHSG turun 0,86% ke 6.319,46.

Proyeksi IHSG Ditentukan Pertumbuhan Ekonomi: Rupiah Masih Kesulitan
kontan.co.id
Mata uang rupiah 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (3/5) kembali melemah. Ketika pasar ditutup, IHSG turun 0,86% ke 6.319,46. IHSG melemah diikuti dengan aksi jual asing dengan nilai net sell Rp 967,33 miliar.

Direktur Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya menyebutkan, IHSG masih berpotensi konsolidasi dalam rentang yang wajar. "Pasar masih menanti rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang kuartal I tahun ini,” tutur dia, Minggu (5/5). 

Analis OSO Sekuritas Sukarno Alatas juga mengatakan, pertumbuhan ekonomi kuartal I Indonesia dinilai baik oleh pasar, maka indeks bisa berpotensi mengalami rebound. Hal ini tentu baik setelah pada dua hari terakhir melemah drastis. "Bila data pertumbuhan ekonomi baik maka business confidence pelaku pasar membaik," kata dia.

Selain dari dalam negeri, analis Artha Sekuritas Dennies Christoper mengingatkan, masih ada sentimen global yang bisa saja masih mengganjal pergerakan indeks. "Efek penetapan suku bunga The Fed masih mempengaruhi indeks domestik, bahkan indeks Asia," kata dia. Dennies juga menambahkan, secara teknikal pergerakan indeks mulai menyentuh area oversold sehingga pergerakan cukup terbatas. Dennies memproyeksikan IHSG bergerak melemah 6.298-6.504.

William juga melihat ada katalis positif dalam negeri itu, IHSG dapat bergerak menguat di 6.257–6.488. Sedangkan Sukarno memproyeksikan IHSG bergerak di 6.300-6.410.

Prediksi Rupiah

Rupiah Sulit Menguat

Hasil notulensi Federal Open Market Committee (FOMC) masih menjadi pemberat laju penguatan rupiah. Jumat (3/5), rupiah di pasar spot melemah 0,10% menjadi Rp 14.266 per dollar Amerika Serikat. Setali tiga uang, kurs tengah rupiah di Bank Indonesia (BI) juga terdepresiasi 0,26% ke level Rp 14.282 per dollar AS.

Menurut Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual, koreksi rupiah pada akhir pekan lalu masih dipengaruhi oleh hasil notulensi FOMC. Notulensi rapat tersebut menyebutkan bahwa The Federal Reserve belum akan mengubah arah suku bunga. "Padahal saat itu pelaku pasar sudah priced in terhadap kemungkinan penurunan suku bunga The Fed," kata dia, akhir pekan lalu.

Analis Monex Investindo Futures Faisyal menambahkan, pelaku pasar bahkan mulai berspekulasi atas notulensi FOMC. Misalnya, pasar melihat peluang suku bunga AS naik di akhir tahun ini.

Spekulasi itu dipicu oleh sejumlah data ekonomi Negeri Paman Sam yang positif. Misalnya, data perubahan jumlah tenaga kerja di luar bidang pertanian bulan April naik 263.000, di atas estimasi analis yang hanya 181.000. Selain itu, tingkat pengangguran bulan April tahun ini turun menjadi 3,6%. Padahal bulan lalu masih ada di level 3,8%.

David menambahkan, posisi the greenback kian perkasa setelah Presiden Donald Trump menyatakan tidak akan melanjutkan pelonggaran terhadap sanksi ekspor minyak Iran. Artinya delapan negara yang masih sempat melakukan impor minyak dari Iran harus segera mengakhirinya.

Melihat berbagai sentimen tersebut, Faisyal memperkirakan, hari ini rupiah bergerak antara Rp 14.150-Rp 14.370 per dollar AS. Prediksi David, laju rupiah di awal pekan ini di rentang Rp 14.200-Rp 14.300 per dollar AS. (Danielisa Putriadita/Aloysius Brama)

 

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved