Kisah Jenderal TNI yang Pernah Saling Todong Senjata dengan Pengawal PM Israel Jebolan Mossad

Salah satu personel Paspampres yang terlibat saat itu adalah Letnan Jenderal TNI Sjafrie Sjamsoeddin.

Kisah Jenderal TNI yang Pernah Saling Todong Senjata dengan Pengawal PM Israel Jebolan Mossad
Istimewa
Ilustrasi-pengawalan-ketat 

Menurut Benny, kunjungan Presiden Soeharto itu memang berisiko tinggi karena di Belanda masih banyak anggota simpatisan Republik Maluku Selatan (RMS) yang bisa membahayakan keselamatan Soeharto.

Untuk memastikan keamanan Presiden Soeharto, Benny kemudian memeriksa rute yang akan dilalui menuju Istana Huis Ten Bosch.

Rute itu ternyata rawan oleh ancaman tembakan sniper dari jendela-jendela bangunan sepanjang jalan dan adanya perempatan lampu merah yang rawan oleh aksi penyergapan bersenjata.

Hasil inspeksi itu kemudian dirapatkan oleh Benny bersama para agen rahasia dan aparat keamanan Belanda.

Baca: Masih Belajar Masak, Begini Tanggapan Reino Tentang Nasi Goreng ala Syahrini

Intinya Benny meminta agar jendela-jendela di bangunan sepanjang jalan yang dilewati Presiden Soeharto dijaga ketat, demikian pula persimpangan lampu merah yang akan dilintasi juga harus disterilkan, untuk mengantisipasi kalau ada serangan dari anggota simpatisan Republik Maluku Selatan (RMS).

Tapi para agen rahasia dan aparat keamanan Belanda ternyata menolak permintaan Benny.

Karena merasa diabaikan, Benny pun mengamuk dan mebentak para aparat keamanan Belanda itu sambil menggebrak meja.

"Kami hanya punya satu Soeharto! Apakah Anda bisa menjamin keselamatannya...!?" bentak Benny dalam Bahasa Belanda

Sebagai agen rahasia (intelijen), Benny memang dikenal mahir berbahasa Jerman, Belanda, Inggris, China, dan Bahasa Korea.

Nyali para aparat keamanan Belanda menjadi agak ciut saat berhadapan dengan Benny yang merupakan veteran perang RI dalam Perang Kemerdekaan dan Operasi Trikora melawan pasukan Belanda.

Tapi Benny tidak bisa berbuat banyak karena sedang berada di negara lain. Apalagi pemerintah Belanda sendiri ternyata tidak begitu menyukai Soeharto.

Kekhawatiran Benny ternyata terbukti, sebanyak 33 anggota RMS bersenjata menyerbu Wisma Duta (rumah Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda) pada 31 Agustus 1970 malam, sehari sebelum jadwal kunjungan Soeharto ke Istana Huis Ten Bosch, Den Haag.

Untung saja Duta Besar RI,Taswin Natadiningrat, lolos dari serbuan.

Karena aksi bersenjata anggota RMS yang ternyata tidak bisa dicegah oleh aparat keamanan dan agen rahasia itu, menjadi pukulan terberat bagi pemerintah Kerajaan Belanda.

Intelijen Belanda sendiri menjadi sadar bahwa apa yang disampaikan oleh Benny sambil marah-marah ternyata benar.

Rombongan Presiden Soeharto yang berkunjung ke Istana Huis Ten Bosch pun kemudian mendapat pengawalan sangat ketat dan kunjungan tidak meggunakan kendaraan darat melainkan helikopter.

Artikel ini telah tayang di surya.co.id http://surabaya.tribunnews.com/2019/05/04/pengalaman-jenderal-tni-pernah-saling-todong-senjata-dengan-pengawal-pm-israel-saat-kawal-soeharto?page=all.

Editor: Gryfid Talumedun
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved