Politik

Ditanya Terkait AHY-Jokowi, Pengamat Politik J Kristiadi 'Ngelawak' di Sapa Indonesia KompasTv

J Kristiadi mengatakan, tak ada dalam politik yang mengenal permusuhan. Yang ada hanyalah terkadang berkompetisi didalam politik dan terkadang. bersam

Ditanya Terkait AHY-Jokowi, Pengamat Politik J Kristiadi 'Ngelawak' di Sapa Indonesia KompasTv
Youtube/KompasTV
Pengamat Politik J Kristiadi 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pengamat politik CSIS, J Kristiadi memberikan komentarnya terkait Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Zulkifli Hasan yang menemui Jokowi setelah Pilpres 2019.

Dilansir TribunJakarta.com, hal itu disampaikannya dalam acara Sapa Indonesia Malam di Kompas Tv, yang diunggah akun YouTube pada Jumat (3/5).

Di awal perbincangan, J Kristiadi menyebut AHY, Zulkifli Hasan dan Jokowi merupakan tokoh-tokoh yang bisa memberikan sinyal kepada rakyat Indonesia bahwa kompetisi bukanlah sebuah permusuhan.

"Kita memang berlawanan tetapi bukan musuh. Kalau musuh itu harus dibinasakan dengan cara apapun, tetapi kalau lawan tidak sehingga pertemuan itu memiliki makna dalam sekali," ucap pengamat.

J Kristiadi mengatakan, tak ada dalam politik yang mengenal permusuhan. Yang ada hanyalah terkadang berkompetisi didalam politik dan terkadang bersama-sama.

"Hal ini bisa mengembalikan kita kepada pakem kedaulatan rakyat bahwa di tiap kompetisi itu bukanlah musuh yang harus dibunuh, itu hanya lawan saja yang suatu saat menjadi kawan," ungkap pengamat.

Baca: TERBARU: pemilu2019.kpu.go.id Hasil Real Count KPU Pilpres, 04/05/19 PKL.13.00 WIB Data Masuk 65.43%

Menurut J Kristiadi, prinsip yang seharusnya dilihat elite partai politik yakni adanya kegembiraan rakyat dengan pertemuan AHY, Zulkifli Hasan dan Jokowi itu.

"Makna yang seharusnya dibangun dari pertemuan itu adalah tidak adanya permusuhan yang harus saling mengabisi," papar pengamat.

J Kristiadi pun meminta kepada media di Indonesia untuk memaknai pertemuan Jokowi dengan AHY dan Zulkifli Hasan sebagai arti yang baik dan bukan menilai dengan sebuah permusuhan lantaran perbedaan dukungan politik.

"Media seharusnya juga tak larut didalam pertarungan yang seakan-akan kita saling memusnahkan. Ternyata mereka itu tokoh yang hebat meski musuhan habis-habisan tetapi masih bertemu," ungkap pengamat.

Halaman
1234
Editor: Frandi Piring
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved