Massa Buruh Tolak Jahit Baju Pejabat
Massa buruh dari Kesatuan Serikat Pekerja Nasional (KSPN) kecewa penyampaian orasi peringatan Hari Buruh hanya dipusatkan di sekitar Patung Arjuna.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Massa buruh dari Kesatuan Serikat Pekerja Nasional (KSPN) kecewa penyampaian orasi peringatan Hari Buruh hanya dipusatkan di sekitar Patung Arjuna Wijaya, Jakarta. Sebagai bentuk protes terhadap penghadangan oleh petugas kepolisian, para buruh garmen mengancam menolak untuk menjahitkan baju para pejabat.
Massa buruh diadang oleh ratusan aparat kepolisian di depan Kementerian Pariwisata, Jalan Merdeka Barat. Polisi menggunakan kawat berduri untuk mengadang massa menuju Istana Negara.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu. Kita dipasangkan kawat berduri, padahal ini adalah perjuangan kita," ujar orator dari atas mobil komando. Massa menyambut orasi itu dan berteriak, "Buruh bersatu tak bisa dikalahkan."
Kemudian seorang orator dari serikat pekerja garmen mendapatkan kesempatan berorasi. Orator mendesak petugas kepolisian untuk membuka blokade agar massa bisa masuk ke wilayah Istana Negara.
"Kita buruh garmen, tekstil. Kalau tidak dicopot kawatnya, besok-besok baju pejabat dan seragam polisi tidak dijahitkan lagi," kata orator itu.
Meski demikian, aparat keamanan yang bersiaga menjaga bergeming. Orasi yang disampaikan tak berlangsung lama, sekitar 20 menit, lalu para buruh beristirahat untuk makan siang.
Pada peringatan May Day di Jakarta tahun ini, aksi buruh hanya dapat dilakukan sampai depan Patung Arjuna Wijaya. Seluruh jalan menuju Istana Negara steril dan dijaga ratusan polisi dan blokade kawat berduri. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan aksi buruh hanya dipusatkan di depan Patung Arjuna Wijaya.
Massa buruh dari Federasi Serikat Pekerja Aneka Sektor Indonesia (FSPASI), berkostum unik dalam menyampaikan tuntutan, di sekitar Patung Arjuna Wijaya. Massa, yang mayoritas perempuan ini, mengenakan kostum lengkap kebaya dan topi caping. Sejumlah tuntunan digaungkan, di antaranya revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78/2015, tentang Pengupahan.
"Cabut 78/2015. Tolong Pak Jokowi cabut PP 78 di mana kaum buruh upahnya belum berubah, peraturan-peraturan yang ada hanya menindas," ujar seorang orator perempuan dari atas mobil komando.
Massa dari FSPASI juga menuntut reformasi BPJS Kesehatan dan penuruan harga bahan pokok. Para buruh pun menutut Presiden Joko Widodo menemui mereka secara langsung. Buruh lalu mempertanyakan alasan keengganan Jokowi menemui buruh.
"Baru tahun ini kami tidak boleh sampai Istana. Kenapa? Jokowi belum mau menyambut kami di Istana. Tolong Bapak Jokowi cabut aturan PP 78. Kami buruh terpukul, upah belum naik," jelas orator. (Tribun Network/rin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/hari-buruh1.jpg)