Sejarah Manado

Masa Lalu Bowentehu, Kedatangan Bangsa Eropa dan Lahirnya Etnis Borgo di Manado

Jembatan Soekarno, Kota Manado sebenarnya menyimpan banyak kisah napak tilas dari persinggungan bangsa Eropa dan pribumi Manado (Bowentehu).

Masa Lalu Bowentehu, Kedatangan Bangsa Eropa dan Lahirnya Etnis Borgo di Manado
(Foto koleksi: colonialarchitecture.eu via Kelung.com)
Foto ini merupakan bagian dari Kota Manado, Kawasan Pecinan sekitar tahun 1910 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Di awal 2019 saya pergi menengok suasana malam di Jembatan Soekarno, Kota Manado.

Setelah diresmikan pada Mei 2015 lalu, jembatan ini menjelma jadi icon baru kota ini.

Siang malam, biasanya ramai dikunjungi orang. Entah sekedar berswafoto atau sekedar nongkrong saja menikmati pemandangan.

Namun saat saya datangi, Jembatan Soekarno nampak sepi, hanya terdapat banyak kendaraan yang berlalu lalang. Mungkin karena saya datang sudah larut malam.

Saya menyadari, di bawah jembatan ini ada Pelabuhan Manado.

Dari kesadaran itu, pikiran mengembara, menerawang jauh ke imajinasi tentang suasana ratusan tahun silam: Kapal-kapal serdadu Eropa yang pernah berlabuh pada abad ke-16 masehi.

Di sela-sela perenungan sakral itu, saya lantas teringat ungkapan puitik seorang penyair dan dramawan Sulut Iverdixon Tinungki: “barangkali yang abadi hanyalah kenangan.”

Ungkapan tersebut membuat saya sejenak bangkit dan berdiri sembari memandangi jalan panjang yang terpampang jauh nan gelap hingga ke Sindulang sana.

Satu daerah pesisir Kota Manado yang pernah menjadi saksi sejarah, manis dan getirnya hubungan orang Eropa dengan penduduk Pribumi.

Dan di titik itu: di antara realitas dan imajinasi, saya lantas melihat jalan menuju Sindulang seperti gerbang pembuka ke masa lalu.

Halaman
1234
Penulis: Reporter Online
Editor: Rizali Posumah
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved