Investor Asing Masih Beli: Meski Ambil Strategi Defensif

Setelah mencetak net buy selama beberapa waktu terakhir, pada perdagangan Jumat (12/4), investor asing kembali mencetak net sell. Nilainya cukup besar

Investor Asing Masih Beli: Meski Ambil Strategi Defensif
kontan.co.id
Pergerakan saham 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Setelah mencetak net buy selama beberapa waktu terakhir, pada perdagangan Jumat (12/4), investor asing kembali mencetak net sell. Nilainya cukup besar, yakni Rp 1,05 triliun.

Meski begitu, bila dihitung sejak awal tahun, posisi investor asing masih net buy. Sejak awal tahun, asing mencetak net buy Rp 14,70 triliun. Tapi, asing melakukan aksi beli dengan strategi defensif. Dua dari tiga saham buruan asing merupakan saham dengan karakteristik defensif.

Sebut saja TLKM dan UNVR. Net buy kedua saham tadi masing-masing Rp 1,96 triliun dan Rp 1,12 triliun. BBRI juga menjadi buruan asing. Net buy di saham merupakan yang tertinggi, Rp 6,94 triliun.

Analis Binaartha Sekuritas mengatakan, TLKM merupakan saham telekomunikasi paling defensif. "Sama seperti defensifnya saham UNVR yang menjadi alasan asing untuk membeli," ujar dia akhir pekan lalu (12/4).

Kedua saham tersebut menjadi saham defensif karena produk dan layanannya termasuk kebutuhan utama masyarakat. Dus, permintaannya akan selalu ada.

Valuasi saham TLKM sejatinya tergolong mahal. Price earning ratio (PER) saham ini 19,95 kali, melampaui rata-rata industrinya sekitar 18,89 kali. Price to book value (PBV) TLKM juga 3,57 kali, di atas rata-rata industri 2,9 kali. "Namun, traffic data biasanya meningkat selama pelaksanaan pemilu," kata Nafan.

Dia memprediksi, laba bersih TLKM tahun ini bisa berbalik tumbuh 12,8% dengan proyeksi pertumbuhan pendapatan 8,1%. Adapun perkiraan pertumbuhan pendapatan tahun lalu hanya 3,8% dengan penurunan laba bersih 9,8%.

Sukarno Alatas, analis Oso Sekuritas menjelaskan, valuasi UNVR juga tergolong relatif mahal. PER saham ini 41,42 kali, sedikit di atas rata-rata industri 41,27 kali. Sementara, PBV tercatat 49,8 kali, di atas rata-rata industri 49,52 kali.

"Laba bersih UNVR tahun lalu tumbuh 30%," kata Sukarno. Ini menjadi salah satu alasan investor asing melakukan rebalancing dengan masuk ke fase defensif.

Lain halnya dengan BBRI. Kinerja keuangan emiten ini di tahun lalu positif. Tambah lagi, valuasi sahamnya masih murah. PER dan PBV saham BBRI masing-masing 16,4 kali dan 2,87 kali. Adapun rata-rata industrinya masing-masing 19,2 kali dan 2,84 kali.

Kondisi ini yang membuat investor asing berani masuk ke saham BBRI, walaupun memang layanan yang diberikan bukan benar-benar kebutuhan utama masyarakat.

Sukarno menyarankan buy on weakness saham BBRI dengan target harga jangka menengah Rp 4.700. Sementara, untuk UNVR, cermati target harga di level Rp 55.550. Menurut dia, pergerakan jangka menengah saham ini cenderung sideways dan menguji resistance Rp 50.125. "Jadi, bisa lakukan buy on weakness," imbuh dia. (Arfyana Rahayu)

 

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved