Penerbitan Obligasi Korporasi Tersendat

Penerbitan obligasi korporasi cenderung turun akibat efek tahun politik serta sikap sebagian perusahaan yang masih menunggu momentum

Penerbitan Obligasi Korporasi Tersendat
Kolase Tribun Manado/Internet/Capture Facebook
Ilustrasi OJK dan Capture Facebook Program Berbagi Berkah 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Penerbitan obligasi korporasi cenderung turun akibat efek tahun politik serta sikap sebagian perusahaan yang masih menunggu momentum penurunan suku bunga acuan.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai penerbitan obligasi korporasi hingga 22 Maret 2019 tercatat sebesar Rp 21,82 triliun. Angka ini memperlihatkan tren penurunan. Sebab, di kuartal I 2018, realisasi penerbitan obligasi korporasi mencapai Rp 29,39 triliun.

Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia Fikri C. Permana menjelaskan, agenda politik membuat penerbitan obligasi korporasi sejauh ini cukup menantang. Sebab, perusahaan penerbit obligasi cenderung berhati-hati dan menunggu kepastian pemerintahan terpilih beserta arah kebijakannya ke depan.

Penerbit obligasi juga mempertimbangkan tingkat penyerapan obligasi. Apalagi, mayoritas pembeli obligasi korporasi berasal dari investor institusi yang dikenal memiliki tingkat kehati-hatian yang cukup tinggi.

"Kami melihat situasi yang stabil dan terprediksi relatif lebih disukai oleh pihak korporasi dibandingkan ketidakpastian," kata dia.

Selain itu, walau tren penurunan yield Surat Utang Negara (SUN) sudah terjadi sejak awal tahun, hal tersebut belum sepenuhnya meyakinkan perusahaan. Penentuan waktu penerbitan ini dianggap penting demi terjaganya arus kas perusahaan di masa kini dan masa depan.

Akibat adanya sejumlah tantangan tadi, Fikri melihat adanya perbedaan komposisi tenor pada penerbitan obligasi korporasi. "Kuartal I 2019, obligasi korporasi yang terbit lebih didominasi tenor di bawah 3 tahun, sedangkan di awal tahun lalu tenornya bisa 3 sampai dengan 5 tahun," ungkap dia.

Prospek semester II

Setali tiga uang, Senior VP & Head of Investment Recapital Asset Management Rio Ariansyah menilai, adanya agenda politik yang berbarengan dengan tren penurunan yield SUN cukup menyulitkan bagi pihak perusahaan.

Menurut dia, jika perusahaan tetap menerbitkan obligasi di waktu sekarang, dikhawatirkan tingkat daya serapnya berkurang karena beberapa investor masih wait and see sampai pemilu usai.

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved