Penyelundupan Uang Asing: Belajar dari Kasus Hotman Paris

Pengacara kondang Hotman paris memang tenar setara artis-artis nasional. Ia juga terkenal karena kekayaan berlimpah. Namun Hotman yang memiliki

Penyelundupan Uang Asing: Belajar dari Kasus Hotman Paris
tribunnews.com
Hotman Paris Hutapea 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Pengacara kondang Hotman paris memang tenar setara artis-artis nasional. Ia juga terkenal karena kekayaan berlimpah. Namun Hotman yang memiliki julukan pengacara 30 miliar itu bukan berarti tak pernah terhadang masalah, termasuk masalah hukum. Desember 2018, Hotman Paris harus berurusan dengan polisi di bandara, Italia.

Hotman bersama sang istri, Agustianne Marbun, diduga sebagai teroris oleh pihak berwajib karena kedapatan membawa uang yang tidak sesuai dengan laporan yang mereka berikan. Hotman awalnya mengaku membawa uang kurang dari 5.000 euro atau setara kira-kira Rp 81 juta.

Padahal, ia menyembunyikan sejumlah uang di berbagai bagian tubuhnya. "Di kaos kaki gue, di mana-mana, ada 30.000 euro (Rp 487 juta), enggak ketahuan kalau gue, nah istri saya yang ketahuan," katanya dalam wawancara di TV swasta.

Benar saja, saat polisi memeriksa tas Agustianne Marbun, ia ketahuan membawa uang sebanyak 2.000 euro atau setara kira-kira Rp 324 juta. Dari situ, mereka akhirnya harus menjalani pemeriksaan selama beberapa jam dan ketinggalan pesawat.

"Harusnya kita pesawat jam 9 dari Milan ke London, ketinggalan pesawat walaupun polisinya minta pesawatnya untuk tunggu, akhirnya pesawat baru dapat tiga jam setelahnya," ucap Hotman Paris.

Hingga akhirnya, putri dari Hotman Paris meminta bantuan kawannya yang juga seorang pengacara dari Italia dan Swiss. Namun, mereka tetap harus membayar denda. "Cuma dikenakan sanksi sekitar 200 euro (Rp 4,8 juta),” kata Hotman.

Wajib Melapor

Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Komunikasi dan Publikasi Ditjen Bea Cukai Deni Surjantoro mengatakan setiap negara memang melakukan pengawasan terhadap aliran uang yang masuk dan keluar. Uang merupakan salah satu hal yang memiliki risiko atau berhubungan erat dengan kegiatan kriminal.

"Jadi sebenarnya gini, itu perspektif internasional di custom antarnegara. Jadi itu kepengawasan pembawaan uang tunai termasuk dalam kategori yang riskan, riskan itu dari sisi kita bicara mengenai trans national organize crime," kata Deni Surjantoro dikutip dari detik.com pada Senin, 3 Desember 2018.

Jadi, uang dalam jumlah yang banyak dikhawatirkan akan digunakan untuk membiayai organisasi kriminal, semisal organisasi terorisme. Sebab, para pelaku kriminal biasanya memilih bertransaksi menggunakan uang tunai dibanding dengan transfer antar-bank.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved