Info

Stop Sebarluaskan Foto Pelaku Kekerasan Dan Korban Yang Masih Di Bawah Umur

Bayangkan jika keluarga, kerabat, dan teman korban melihat unggahan itu. Hal ini menambah trauma yang sudah mereka alami

Stop Sebarluaskan Foto Pelaku Kekerasan Dan Korban Yang Masih Di Bawah Umur
Istimewa
-jangan-menyebarkan-foto-korban-atau-tersangka 

TRIBUNMANADO.CO.ID -  Selain berita palsu, foto-foto korban kekerasan merupakan konten yang juga sering disebarluaskan di media sosial serta grup Whatsapp.

Semakin mengenaskan, saat korban kekerasan itu adalah anak-anak dan perempuan, semakin banyak pula orang yang menyukai dan menyebarkan fotonya.

Umumnya foto korban kekerasan disertai keterangan berbunyi "orangtua harus hati-hati agar anaknya tidak menjadi korban seperti anak di foto ini" atau "kasihan sekali, anak ini menjadi korban kekerasan".

"Niatnya adalah meminta orang-orang di media sosial agar menjaga anak-anak ataupun diri mereka, tetapi yang terjadi malah si pengunggah konten menjadi penyebar kekerasan visual," kata psikolog anak dari Universitas Indonesia, Rose Mini.

Baca: BREAKING NEWS - Pengakuan 7 Siswi SMA yang Terseret dalam Kasus Dugaan Pengeroyokan Siswi SMP

Ia menilai, penyebab utama penyebaran foto korban kekerasan terletak pada sifat manusia yang selalu ingin menjadi yang pertama. Orang ingin menjadi yang pertama dalam mengetahui, menyebarkan informasi, serta berkomentar.

Hal ini mengakibatkan netizen tidak bijak saat memilih dan memilah informasi untuk disebarkan. Dengan kata lain, tindakan mengunggah foto korban kekerasan lebih bermotif sensasionalitas ketimbang kehendak saling mengingatkan.

"Bayangkan jika keluarga, kerabat, dan teman korban melihat unggahan itu. Hal ini menambah trauma yang sudah mereka alami," kata Rose. Sering kali, menurut dia, penyebar foto korban tidak memahami dampak negatif unggahan karena ia tidak merasakannya sendiri.

Rose menyarankan, apabila berniat untuk mengimbau masyarakat agar berhati-hati dalam melindungi anak, netizen cukup melakukannya dengan mengunggah pesan.

Baca: (VIDEO): Penjelasan Kepolisian Soal Kronologi Penganiayaan Siswi SMP Pontianak

Netizen tak perlu menyertakan foto karena melanggar privasi korban dan keluarga. Penyebaran foto juga menambah penyebaran kekerasan visual. Masyarakat bisa kehilangan kepekaan ketika dihadapkan pada situasi tidak manusiawi yang sesungguhnya.

Foto anak Selain korban kekerasan, Rose juga mengamati, banyak orang menyebarluaskan foto anak karena lucu dan menggemaskan. Tindakan ini dinilai berbahaya karena dapat menjadi pintu masuk bagi predator yang mengancam keselamatan anak.

Halaman
12
Editor: Gryfid Talumedun
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved