Politik

Umbas: Meski Bukan Putra Minahasa, Jokowi Jalankan Falsafah Sam Ratulangi

Karakter kepemimpinan calon presiden (capres) 01, Joko Widodo (Jokowi) ibarat bumi dan langit jika dibanding capres 02 Prabowo Subianto.

Umbas: Meski Bukan Putra Minahasa, Jokowi Jalankan Falsafah Sam Ratulangi
Istimewa
Wakil Kepala Rumah Aspirasi Jokowi-Amin, Michael Umbas bersama Jokowi 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Karakter kepemimpinan calon presiden (capres) 01, Joko Widodo (Jokowi) ibarat bumi dan langit jika dibanding capres 02 Prabowo Subianto.

Demikian yang dikatakan Michael Umbas. Wakil Kepala Rumah Aspirasi Jokowi-Amin itumengatakan, Jokowi selalu tampil penuh optimisme, menyatu dengan rakyat, menginspirasi dan visioner serta apa adanya.

Sementara Prabowo cenderung menghadirkan pesimisme, ketakutan, emosional dan bahkan beberapa kali mengeluarkan kata-kata tak pantas.

"Karakter kepemimpinan Jokowi terbentuk dari nafas dan jiwa arus bawah sebagaimana Jokowi sejatinya berasal," ujar Michael Umbas dalam keterangan tertulis kepada Tribun Manado, Rabu (10/4/2019).

Katanya, Ada falsafah terkenal dari Pahlawan Nasional asal Minahasa GSJJ Sam Ratulangi yaitu “Si Tou Timou Tumou Tou” atau manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain.

Banyak makna yang terkandung dari filosofi itu. Jokowi menjalankan falsafah Sam Ratulangi dengan menghadirkan program dan kebijakan yang mengangkat derajat manusia dan rakyat Indonesia tanpa membeda-bedakan asal-usul dan identitas.

"Meskipun karakter Minahasa sebagaimana disebut Prabowo mengalir dalam dirinya melalui darah ibunya, tapi sesungguhnya falsafah Ratulangi yang mengusung konsep kemanusiaan yang tinggi tidak tampak dari Prabowo," katanya.

Sebut saja di Minahasa tidak ada budaya pemimpin marah-marah, membentak dan merendahkan yang lain apalagi rakyatnya sendiri. Nilai-nilai kultur keminahasaan yang meskipun egaliter tapi tetap sarat akan penghargaan nilai-nilai kemanusiaan.

”Tidak ada dalam sejarah Minahasa pemimpin gebrak-gebrak meja lalu membentak dan menakut-nakuti,” kata Umbas yang juga putra Minahasa.

Menurutnya, rakyat tentu mencermati setiap tampilan kampanye dan orasi dari Prabowo. Perkataan kasar hanya akan menjatuhkan kredibilitas pemimpin di mata rakyatnya.

Belum lama ini, Prabowo menyebut Ibu Pertiwi sedang diperkosa. Tak hanya itu, muncul diksi “bajingan” dari mulut Prabowo ketika kampanye di Stadion Kridosono, Yogyakarta, Senin (8/4).

Sementara, Jokowi selalu menyampaikan bahwa demokrasi semestinya diisi kegembiraan. Bukan justru menakuti masyarakat atau menghadirkan narasi-narasi pesimisme.

"Misalnya sewaktu kampanye di Stadion Singaperbangsa Karawang, Jabar, 9 April, Jokowi mengatakan demokrasi adalah kegembiraan. Jangan sampai malah ada yang menakut-nakuti, jangan sampai ada yang pesimis, jangan sampai ada yang suka marah-marah,” kata Umbas mengutip pernyataan Jokowi. (tribunmanado.co.id/Fernando Lumowa)

Penulis: Fernando_Lumowa
Editor: Rizali Posumah
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved