Religi

Ini Penjelasan Singkat tentang Dialog Iman Santo Fransiskus Asisi dan Sultan Malik Al Kamil

Peter C Aman OFM memberikan materi Santo Fransiskus Assisi dan Sultan Malik Al-Kamil.

Ini Penjelasan Singkat tentang Dialog Iman Santo Fransiskus Asisi dan Sultan Malik Al Kamil
TRIBUN MANADO/DAVID MANEWUS
Ini Penjelasan Singkat tentang Dialog Iman Santo Fransiskus Asisi dan Sultan Malik Al Kamil 

Ini Penjelasan Singkat Peter Aman OFM tentang Dialog Iman Santo Fransiskus Asisi dan Sultan Malik Al Kamil

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Peter C Aman OFM memberikan materi Santo Fransiskus Assisi dan Sultan Malik Al-Kamil: Dialog iman serta relevansinya dalam seminar Damietta: Perjumpaan dan Dialog Damai, di Emmanuel Amphiteater-Catholic Youth Center Lotta, Rabu (3/4/2019). Ia memberikan fakta historis.

"Pada tanggal 26 Mei 1219, pada hari Pentakosta para pengikut Fransiskus mengadakan Kapitel yang dikenal dengan Kapitel Pentakosta. Hal lain yang disepakati dalam Kapitel 1219 adalah keputusan untuk mengirimkan misionaris ke luar Eropa, khususnya ke wilayah Islam,  di Timur Tengah dan Afrika Utara," katanya.

Pada tanggal 11 Juni 1219, Paus Honorius mengeluarkan surat yang mengizinkan para saudara bermisi ke luar Eropa. Sesungguhnya, pada tahun 1217 Fransiskus telah mengutus sejumlah saudara ke Maroko dan Syria. Para saudara yang dikirim ke Maroko menjadi martir Ordo. Misi ke Maroko juga berdasarkan Kapitel Umum tahun 1217.

"Kendati ada kesulitan, Fransiskus tetap konsisten pada rencananya mengirimkan para saudara ke wilayah Islam. Fransiskus sendiri kemudian berlayar ke Timur Tengah 24 Jui 1219 dari Ancona," katanya.

Peristiwa penting lain yang perlu ditampilkan adalah Konsili Lateran. Konsili Lateran dilaksanakan November  tahun 1215 dengan dua tujuan, yakni pembaharuan internal Gereja dan merebut kembali tanah suci. Khusus tentang perang salib, Innocentius III menulis ensiklik Quia Maior (1213), di mana beliau mengutip tuntutan mengikuti Yesus “memanggul salib, menyangkal diri dan mengikuti Yesus” sebagai tuntutan untuk turut serta dalam perang salib

"Fransiskus Assisi hadir dalam Konsili Lateran IV dan hal itu berpengaruh padanya, sebagaimana kita lihat dalam tulisannya dan juga sikapnya berkaitan dengan perang salib. Berkaitan dengan pembaharuan Gereja, Konsili Lateran IV memberikan pengaruh kepada Fransiskus, khususnya dalam penulisan regula (aturan hidup) tentang penghormatan terhadap sakramen ekaristi, para imam dan tugas berkotbah," katanya.

Setelah pertempuran 31 Juli 1219, pasukan Malik al-Kamil mengalami kesulitan akibat penyakit dan kekurangan pangan. Karena itu dia mengirim dua tentara perang salib yang ditawannya, untuk membawa pesan perundingan perdamaian. Kedua utusan itu adalah Andreas dari Nanteuil dan Yohanes dari Arcis. Tawaran Sultan sesungguhnya menarik, yakni menyerahkan kendali atas Yerusalem kepada tentara Salib, dan wilayah-wilayah yang jatuh ke tangan Sultan, serta mengembalikan sisa salib asli Yesus yang dikuasai pasukan Sultan. Sultan juga berjanji membantu membangun kembali tembok Yerusalem yang runtuh 

"Di perkembahan tentara salib, usulan perdamaian Sultan menjadi pokok perdebatan. Yohanes dari Brienne, pemimpin perang salib, menyetujui usulan perdamaian, sedangkan Kardinal Pelagius menolaknya. Pelagius berkeyakinan bahwa sebentar lagi Damieta akan dikuasai, karena bala bantuan dari Kaiser Fredrick II akan segera tiba. Pelagius didukung pasukan dari Italia (Pisa Genoa dan Venesia)," ujarnya. 

Fransiskus hadir dalam perdebatan sengit itu. Kekalahan dalam perang 31 Juli 1219,  berdampak pada melemahnya semangat juang tentara salib, apalagi jumlah mereka jauh lebih sedikit dibanding pasukan Sultan. Kehadiran dan doa Fransiskus amat diharapkan demi kemenangan perang. Dia diharapkan memberikan dorongan dan semangat juang. Fransiskus, yang juga memiliki pengalaman berperang dan menjadi tawanan di hadapkan pada dilemma sulit. Kondisi di perkemahan tentara saib juga memperihatinkan. Ada diskriminasi yang melemahkan semangat juang pasukan. Pasukan infanteri (pasukan dari rakyat jelata) harus berjeri-lelah berjalan kaki, sedangkan mereka yang berkecukupan, orang kaya dan bangsawan, bertempur sebagai pasukan berkuda. Kondisi diskriminatif seperti itu tentu tidak kondusif bagi perjuangan bersama.

Halaman
12
Penulis: David_Manewus
Editor: Alexander Pattyranie
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved