Religi

Paus Yohanes Paulus II, Toleran Sedari Kecil

Meski sudah 14 tahun berselang wafatnya Paus Yohanes Paulus II pada 2 April 2005, namun ada begitu banyak ingatan tentangnya yang masih lekat dibenak.

Paus Yohanes Paulus II, Toleran Sedari Kecil
Istimewa
Paus Yohanes Paulus II 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Meski sudah 14 tahun berselang wafatnya Paus Yohanes Paulus II pada 2 April 2005, namun ada begitu banyak ingatan tentangnya yang masih lekat dibenak warga dunia. 

Salah satu sikap konsistennya dalam menjalin hubungan baik dengan berbagai komunitas agama di dunia. Karena itu pula Yohanes Paulus II dikenal sebagai Paus yang paling banyak bepergian.

Dia telah berkunjung ke 129 negara selama masa kepausannya. Dengan kemampuannya berbicara dalam delapan bahasa (Polandia, Italia, Perancis, Jerman, Inggris, Spanyol, Portugal, dan Latin), Paus Yohanes Paulus II amat mudah berkomunikasi saat melakukan perjalanan keliling dunia.

Di antara banyaknya hal penting yang dikenang dari Paus Yohanes Paulus II adalah upayanya memperbaiki hubungan Gereja Katolik dengan agama Yahudi, Islam, dan Gereja Ortodoks serta Gereja Anglikan.

Selain itu, Ia juga meminta maaf untuk perilaku Gereja Katolik di masa Perang Dunia II. 

Bila ditilik masa kecil Paus Yohanes Paulus II, sikap-sikapnya yang cukup plural itu tidak lahir di ruang hampa begitu saja. Ia tercipta dari sebuah kesadaran spiritual: hasil dari mengamati realitas sosial di lingkungan tempat dia hidup. 

Masa kecilnya, sering berhubungan dengan komunitas Yahudi. Di kota kelahirannya, sering diadakan pertandingan sepak bola antara tim Yahudi dan Katolik. Wojtyła biasanya secara sukarela akan menawarkan diri menjadi penjaga gawang cadangan di tim Yahudi jika kekurangan pemain. 

Pada pertengahan 1938, ia dibawa ayahnya untuk meninggalkan Wadowice dan pindah ke Kraków. Di kota ini, selepas SMA dia masuk ke Universitas Jagiellonian. Sambil belajar filologi dan berbagai bahasa di universitas, Wojtyla menjadi pustakawan sukarela dan juga harus ikut serta dalam wajib militer di Legiun Akademik Resimen Infanteri ke 36 Polandia. Meski begitu, Wojtyla yang relijius menolak menembakkan senjata.

Wojtyla juga menggemari sastra, dia tampil di beberapa grup teater dan kerap menulis naskah drama. Di masa itu, kemampuan berbahasanya berkembang. Wojtyla mempelajari 12 bahasa asing. Sembilan diantaranya kemudian dipakai terus ketika menjadi Paus: Bahasa Polandia, Slowakia, Rusia, Italia, Prancis, Spanyol, Portugis, Jerman, dan Inggris, ditambah Bahasa Latin Gerejawi

Saat perang Dunia II pecah Universitas tempat Wojtyla menimba ilmu ditutup. Nazi Jerman menduduki Polandia, termasuk kota Krakow. Wojtyla terpaksa bekerja di tambang dan kemudian ke pabrik bahan kimia. 

Halaman
12
Penulis: Rizali Posumah
Editor: Rizali Posumah
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved