Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sejarah

Hari Ini 2 April 2005 Paus Yohanes Paulus II Wafat, Ini Fakta-fakta Semasa Hidup Beliau

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam. Enam hari berselang, 2 juta orang dari berbagai penjuru dunia datang ke Vatikan untuk menghadiri pemakamannya

Editor: Rizali Posumah
AFP PHOTO / JEAN-CLAUDE DELMAS
Bunda Teresa dan Paus Yohanes Paulus II melambaikan tangan kepada umat di Nirmal Hriday Home di Kolkata, 3 Februari 1986 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Hari ini 2 April 2005 di Kota Vatikan, Paus Yohanes Paulus II tutup usia 85 tahun. Dia adalah orang non-Italia pertama semenjak abad ke-16 masehi yang menjadi Paus.

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam. Enam hari berselang, 2 juta orang dari berbagai penjuru dunia datang ke Vatikan untuk menghadiri pemakamannya. 

Yohanes Paulus II dikenal sebagai Paus yang paling banyak bepergian dengan berkunjung ke 129 negara selama masa kepausannya. Dengan kemampuannya berbicara dalam delapan bahasa (Polandia, Italia, Perancis, Jerman, Inggris, Spanyol, Portugal, dan Latin), Paus Yohanes Paulus II amat mudah berkomunikasi saat melakukan perjalanan keliling dunia.

Di antara banyaknya hal penting yang dikenang dari Paus Yohanes Paulus II adalah upayanya memperbaiki hubungan Gereja Katolik dengan agama Yahudi, Islam, dan Gereja Ortodoks serta Gereja Anglikan.

Selain gencar melawan komunisme, Paus Yohanes Paulus II dikenal kerap membangun silaturahmi dengan agama lain. Ia juga gencar melakakun upaya rekonsiliasi, seperti meminta maaf untuk perilaku Gereja Katolik di masa Perang Dunia II.

Pada tahun 1989, ia mengunjungi Indonesia. Kota-kota yang dikunjunginya adalah Jakarta, Medan (Sumatera Utara), Yogyakarta (Jawa Tengah, dan DIY) dan Dili (Timor Timur).

Setelah berkunjung ke Indonesia, komentarnya ialah:
"Tidak ada negara yang begitu toleran seperti Indonesia di muka bumi."

Usaha Pembunuhan

Pada 13 Mei 1981, Paus Yohanes Paulus II ditembak di Lapangan St Petrus oleh pria Turki bernama Mehmet Ali Agca. Upaya pembunuhan itu gagal dan setelah selesai menjalani perawatan di rumah sakit, Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Ali Agca di penjara dan memaafkan pria itu.

Setahun kemudian, Paus Yohanes Paulus II kembali nyaris menjadi korban pembunuhan. Kali ini pelakunya adalah seorang pastor radikal yang menentang reformasi di Vatikan.

Di antara upaya pembunuhan tersebut, ada kisah yang paling berkesan yakni ketika Paus Yohanes justru mengampuni Ali Agca pelaku penembakan.

Empat peluru mengenai Paus Yohanes Paulus II, dua bersarang di perut dan dua lainya mengenai jari tangannya.
Dua turis yang ada di dekat Paus Yohanes Paulus terluka dan Ali Agca sempat membuat pistolnya ke bawah sebuah truk sebelum ditangkap Camilo Cibin, kepala keamanan Vatikan.

Di hadapan polisi Ali mengaku bahwa dirinya memiliki kaitan dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Pernyataan Ali ini dibantah keras oleh PLO.

Saat sidang pengadilannya digelar pada 20 Juli 1981, Ali Agca mencoba peruntungannya dengan mengatakan Italia tak memiliki hak mengadilinya karena penembakan terjadi di Vatikan.

Ali Agca mengancam akan melakukan mogok makan jika sidang tak digelar di pengadilan Vatikan.
Ancaman itu diabaikan dan ditolak lalu hanya dalam dua hari, pengadilan memutuskan Ali Agca bersalah.

Dia kemudian dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tetapi Ali Agca dibebaskan pada 2010 setelah mendapat sejumlah keringanan hukuman dan adanya perubahan dalam undang-undang pidana Italia.

Setelah sembuh dari lukanya dan mengetahui Ali Agca dipenjara, Paus Yohanes Paulus II meminta umat Katolik mendoakan pria Turki itu.
"Saya sudah memaafkan saudara saya itu," kata Paus Yohanes Paulus II.

Dua hari setelah Natal, pada 27 Desember 1983, Paus menjenguk pembunuhnya di penjara Rebibbia, Roma.

Keduanya bercakap-cakap dan berbincang-bincang beberapa lama.

Setelah pertemuan ini, Paus kemudian berkata: "Apa yang kita bicarakan harus merupakan rahasia antara dia dan saya. Ketika berbicara dengannya saya anggap ia adalah seorang saudara yang sudah saya ampuni dan saya percayai sepenuhnya."

Kebaikan hati Paus Yohanes Paulus II tak berhenti sampai di situ, ia juga bertemu ibu Ali Agca pada 1987 dan kakakya, Muezzin Agca, satu dekade kemudian.

Meski pernah mencoba membunuh Paus Yohanes Paulus II, tetapi belakangan hubungan Ali Agca dan orang yang hendak dibunuhnya itu semakin erat.

Bahkan pada 2005, di saat Paus Yohanes Paulus II terbaring sakit, Ali Agca mengirimkan surat dan mendoakan Paus agar cepat sembuh.
Pada 2008, Ali Agca pernah meminta untuk mendapatkan status kewarganegaraan Polandia dan ingin menghabiskan hidupya di negeri itu.
Pada 27 Desember 2014, Ali Agca mengunjungi makam Paus Yohanes Paulus II dan meletakkan karangan bunga.

Dari kelahiran hingga menjadi Paus

Paus Yohanes Paulus II terlahir dengan nama Karol Jozef Wojtyla di Wadowice, Polandia pada 18 Mei 1920. Usai lulus dari SMA, Wojtyla kemudian masuk ke Universitas Jagiellonian di kota Krakow untuk belajar filsafat, sastra, dan tampil dalam sejumlah pementasan drama.

Lalu Perang Dunia II pecah dan Nazi Jerman menduduki Polandia, termasuk kota Krakow. Akibatnya, universitas tempat Wojtyla menimba ilmu ditutup. Alhasil, Wojtyla terpaksa bekerja di tambang dan kemudian di pabrik bahan kimia.

Pada 1941, ibu, ayah, dan saudara laki-laki Wojtyla meninggal dunia dan membuatnya menjadi sebatang kara. Meski Wojtyla amat rajin beribadah dan aktif dalam kegiatan gereja, baru pada 1942 dia masuk seminari untuk menjadi imam Gereja Katolik.

Saat Perang Dunia II berakhir, Wojtyla meneruskan kuliahnya yang terputus di Universitas Jagellonian dan kali ini dia mendalami ilmu Teologi.

Setelah resmi menjadi imam pada 1946, Wojtyla berhasil menyelesaikan dua kuliah doktor dan menjadi profesor dalam bidang teologi moral dan etika sosial.

Pada 4 Juli 1958 saat berusia 38 tahun, Wojtyla ditunjuk Paus Pius XII menjadi uskup pembantu di Krakow sebelum menjadi uskup agung kota itu. Saat menjadi uskup agung Krakow, Wojtyla dengan lantang menyuarakan kebebasan beragama sementara di sisi lain Konsisi Vatikan Kedua digelar yang akan merevolusi ajaran Katolik.

Pada 1967, Wojtyla diangkat menjadi seorang kardinal dan mengambil risiko bekerja dan hidup sebagai imam Katolik di bawah rezim komunis yang saat itu memerintah Polandia.

"Saya tak takut dengan mereka. Merekalah yang takut kepada saya," ujar Wojtyla saat ditanya soal perasaannya terhadap pemerintahan komunis.

Secara diam-diam dan perlahan, Wojtyla membangun reputasinya sebagai seorang imam berpengaruh sekaligus sosok intelektual penuh kharisma. Meski sudah memiliki reputasi luar biasa, tetap saja saat Paus Yohanes Paulus I meninggal pada 1978 setelah 34 hari menjabat, tak banyak yang menyangka pria Polandia ini yang akan duduk di Tahta Suci.

Namun, setelah tujuh putaran pemungutan suara, dewan konklaf akhirnya memilih Wojtyla yang saat itu berusia 58 tahun menjadi Paus ke-264. Dia menjadi Paus pertama non-Italia dan yang termuda sejak 132 tahun terakhir. Paus non-Italia terakhir sebelum Wojtyla adalah Paus Adrian VI asal Belanda yang menjabat pada 1522-1523.

Sebagai sosok konservatif, masa kepausan Yohanes Paulus II diwarnai keteguhan Vatikan menentang komunisme dan perang juga aborsi, penggunaan kontrasepsi, hukuman mati, dan hubungan seks sesama jenis. Paus Yohanes Paulus II juga kemudian menentang euthanasia, kloning manusia, dan riset sel punca. (*)

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved