Adukan Keluhan, Pelaku Penembakan di Christchurch Ngaku Kehilangan Hak Dasar di Penjara

Pelaku penembakan masjid di Christchurch, Selandia Baru, mengadukan secara resmi atas perlakuan terhadap dirinya selama berada di penjara.

AFP via Daily Mirror Kompas.com/AFP via Daily Mirror
Brenton Tarrant, teroris penembakan masjid Selandia Baru membentuk gestur OK yang merupakan lambang supremasi kulit putih dengan jarinya ketika masuk untuk menjalani sidang perdana Sabtu (16/3/2019) 

"Tahanan memiliki hak untuk diperlakukan dengan kemanusiaan, martabat, dan rasa hormat saat berada di penjara," demikian tulis situs resmi Departemen Pemasyarakatan.

Namun, lembaga tersebut memang dapat menerapkan pengecualian untuk kasus tertentu.

Juru bicara Departemen Pemasyarakatan Selandia baru mengonfirmasi, Tarrant memang tidak memiliki akses pada media apa pun dan pengunjung.

"Dia diperlakukan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam UU Pemasyarakatan 2004 dan kewajiban internasional kami untuk menangani tahanan," katanya kepada Newshub.

"Pada saat ini, dia tidak memiliki akses untuk televisi, radio, atau surat kabar, dan tidak boleh ada pengunjung," lanjutnya.

Departemen Pemasyarakatan tidak menyebutkan terkait apakah dia diizinan untuk menggunakan telepon.

UU di "Negeri Kiwi" menyebutkan, para tahanan diizinkan setidaknya satu sampai lima menit untuk menelepon ke penasihat hukum atau yang lainnya.

"Untuk alasan keamanan operasional, tidak ada informasi lebih lanjut yang akan diberikan," ujarnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pelaku Penembakan Masjid di Christchurch Keluhkan Perlakuan di Penjara", https://internasional.kompas.com/read/2019/03/31/11390311/pelaku-penembakan-masjid-di-christchurch-keluhkan-perlakuan-di-penjara.

Editor:
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved