HAM

Hasil Investigasi Nduga Selama Operasi Militer: Rumah Warga Dibakar hingga Hilangnya Pendeta Geyimin

Selain itu, sejumlah rumah ibadah dikatakan dirusak, beserta rumah penduduk, puskesmas, yang dibakar aparat.

Hasil Investigasi Nduga Selama Operasi Militer: Rumah Warga Dibakar hingga Hilangnya Pendeta Geyimin
ANTARA FOTO/Iwan Adisaputra/aww.(Iwan Adisaputra)
Prajurit TNI bersiap menaiki helikopter menuju Nduga di Wamena, Papua, Rabu (5/12/2018). 

TRIBUNMANADO.CO.ID -Tim investigasi independen mengungkapkan hasil temuannya di lapangan selama operasi pengejaran aparat terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata ( KKB), di Kabupaten Nduga, Papua.

Pada konferensi pers di kantor Amnesty International Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (29/3/2019), anggota Tim Investigasi Theo Hasegem menuturkan masyarakat di sekitar tempat operasi terpaksa mengungsi karena rumahnya rusak. Selain itu, masyarakat juga dihantui rasa takut menjadi korban.

 "Masyarakat setempat kehilangan tempat tinggal karena rumah-rumah mereka ikut hancur ketika militer melakukan pengejaran terhadap anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB)," ungkap Theo.

"Tidak hanya itu, warga juga terpaksa meninggalkan rumah-rumah mereka di beberapa distrik karena khawatir akan menjadi korban dari operasi tersebut," lanjut dia.

Menurut data tim investigasi, terdapat sekitar puluhan ribu pengungsi akibat operasi tersebut.

Perinciannya, 4.276 pengungsi di Distrik Mapenduma, 4.369 pengungsi di Distrik Mugi, 5.056 pengungsi di Distrik Jigi, 5.021 pengungsi di Distrik Yal, dan 3.775 pengungsi di Distrik Mbulmu Yalma.

Selain itu, pengungsi juga tersebar di Distrik Kagayem sebanyak 4.238 jiwa, Distrik Nirkuri sebanyak 2.982 jiwa, Distrik Inikgal sebanyak 4.001 jiwa, Distrik Mbua sebanyak 2.021 jiwa, dan Distrik Dal sebanyak 1.704 jiwa.

Para pengungsi yang terdiri dari anak-anak, ibu-ibu, dan lansia, mengungsi ke hutan dan bersembunyi di gua.

Ibu-ibu yang mengungsi juga dikatakan ada yang melahirkan di hutan sehingga kesulitan mengakses pertolongan medis.

Bahan makanan yang terbatas di hutan membuat para pengungsi seperti balita, tak dapat asupan yang cukup.

Halaman
1234
Editor: Rizali Posumah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved