Bung Karno: “Megawati - Jokowi - Olly” (Sinergitas Pusat dan Daerah)

Ternyata jiwa dan spirit itu masuk kepada ‘Trio Golden’ Mega, Jokowi, Olly yang membuat Sulut yang di utara menjadi dikenal oleh Indonesia dan dunia.

Bung Karno: “Megawati - Jokowi - Olly” (Sinergitas Pusat dan Daerah)
ISTIMEWA
Gubernur Sulut Olly Dondokambey 

Oleh:
Johny Weol
Ketua Forum Pembaca Pecinta Buku Gramedia, Kompas Intisari
Ketua Forum Pencinta Bung Karno Sulut

SINERGITAS dan soliditas trio Mega, Jokowi, Olly sangat memuaskan penduduk se-Sulawesi Utara. Trio segi tiga emas (golden triangle) besutan Megawati sangat bagus. Berikut hubungannya dengan Bung Karno plus DR Sam Ratulangi yang diawali dengan
beberapa pidato Bung Karno (BK).

“Kalau Barong Liong Sai dari Tiongkok, kerja sama dengan Lembu Nandi dari India, dengan Sphinx dari Mesir, dengan burung merak dari Birma, dengan gajah putih dari Siam, dengan ular Hidra dari Vietnam, dengan harimau dari Filipina, dan dengan banteng dari Indonesia, maka pasti hancur lebur itu imperialisme dan kolonialisme Internasional.”

Inilah kutipan tulisan Bung Karno dalam “Indonesianisme dan Pan-Asiatisme” tahun 1928, tujuh belas tahun sebelum Indonesia merdeka.

Bung karno memastikan nasionalismenya jauh berbeda dengan nasionalisme lain Asia Afrika. Bung Karno memastikan nasionalismenya jauh berbeda dengan nasionalisme bangsa barat yang melahirkan imprerialisme. Nasionalisme kita bukanlah suatu copy atau tiruan dari nasionalisme barat; Nasionalisme kita adalah nasionalisme ketimuran, tulis Bung Karno.

Sepanjang hidupnya Bung Karno boleh jadi berhasil dengan Kredo nasionalisme ini. Kurun 1940 an dan 1950 an nama Bung Karno senantiasa disebut. Ketenarannya boleh dikata sejajar dengan kepopuleran Mahatma Gandhi dan Nehru dari India, Mao Zedong dari Cina, serta Ho Chi Minh dari Vietnam.

Nasionalisme ini melahirkan (seturut Majalah Time) pekik “Merdeka, tetap Merdeka” yang diteriakkan pendukung Bung Karno, semangat swaraj pendukung Gandhi, serta tu do pasukan Ho Chi Minh yang seolah sihir yang mengawali gelombang besar nasionalisme dan pergerakan kemerdekaan di Asia dan juga kemudian Afrika yang mengubah total wajah dunia global. Bahkan di depan Universitas Heidelberg Jerman, 22 Juni 1956 Bung Karno menyatakan:

“Revolusi-revolusi Asia Afrika itu lebih penting dari bom atom”. Dilanjutkan “Saya menjadi terompet Indonesia, terompet Asia. Terompet Asia. Terompet lebih dari 1.600 juta rakyat”. (ceramah BK di Semarang 29 Juni 1956).

Lebih hebat lagi BK berkata: “Demikianlah, maka kaisar Haile Selasie dari Abbesinia bahu membahu dengan Madibo Keita dan Ben Bella, dengan Sekou Toure, dengan Nkrumah, dengan Jomo Kenyata, dengan Gamal Abdell Nasser. Demikian juga Arbenz Gusman bergandengan tangan dengan Cheddy Jagan, dengan Fidel Castro”. Maka Sukarno menjadi “Comrade in arm-nya Ayub Khan dan Serimavo Bandaranaike, Newin, Macapagal, Ho Chi Minh, Mao Tse Tung, Norodom Sihanouk, dan Kim II Sung.”

Nilai kebangsaan, nasionalisme Indonesia dipidatokan BK juga di perserikatan Bangsa-bangsa 1960. BK mengelompokkan bangsa baru NEFOS (New Emerging Forces) danOLDEFOS (Old Emerging Forces) Rasa percaya diri BK, memimpin bangsa-bangsa dunia
melahirkan GANEFO (games of The New Emerging Forces) pesta olahraga revolusioner dan CONEFO (The Conference of The New Emerging Forces) semacam PBB tandingan.

Halaman
123
Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved