Menjangkau Akal Sehat Menuju Pesta Demokrasi

Pesta demokrasi seharusnya menjadi lumbung pemikiran yang bernuansa logika kebebasan dan keanggunan berpikir, ternyata hanya dijadikan pesta hoaks.

Menjangkau Akal Sehat Menuju Pesta Demokrasi
tribun jambi
Logo Hoax 

Oleh:
Ardiansa Tucunan
* Dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat Unsrat

KETIKA berbicara mengenai akal sehat, akan terlintas dalam benak kita adalah logika yang berkembang dalam diri setiap orang yang Tuhan taruh dalam dirinya untuk kebaikan umat manusia tentu saja.

Hari ini, kita diperhadapkan dengan begitu banyak fenomena menjelang pesta demokrasi di mana ada begitu banyak kekacauan logika yang sedang mendera masyarakat kita. Beberapa kalangan masyarakat cenderung menggunakan logika serampangan untuk menyerang, membuat hoaks, membenci dan menalarkan sesuatu dengan penuh kebencian. Hal ini berakibat pada lemahnya pendalaman logika di kalangan masyarakat karena hanya berpikir jangka pendek dan sangat pragmatis, ditambah lagi provokasi di kalangan elit seolah-seolah membenarkan kekacauan ini.

Ada banyak kelompok yang bersedia mengorbankan akal sehatnya demi menjangkau kekuasaan dalam pemenangan di pesta demokrasi, dengan mengabaikan hakikat sesungguhnya dari penalaran sebuah masalah. Terlalu banyak persoalan yang dijadikan konflik karena konflik kepentingan yang sangat kuat, dan akibatnya logika yang seharusnya mengantar kita kepada upaya menumbuhkan cara berpikir yang baik tapi ternyata hanya dijadikan lahan untuk mencari profit dan kekuasaan dengan semua pembenarannya.

Pesta demokrasi seharusnya menjadi lumbung pemikiran yang bernuansa logika kebebasan dan keanggunan berpikir, tapi ternyata hanya dijadikan ‘pesta hoaks’ dan penuh huru-hara kegenitan politik yang berdampak pada gagalnya masyarakat membawa ketenangan dan kedamaian satu sama lain hanya karena perbedaan perspektif politik. Akal sehat di masyarakat yang masih ter-fragmentasi belum sepenuhnya baik karena masih terjangkiti dengan virus ketidakdewasaan berpolitik dan virus devide et impera yang dibawa penjajah sejak zaman penjajahan dengan menghancurleburkan masyarakat kita.

Kita belum bisa disebut masyarakat yang melek berpolitik yang baik karena masih suka mendikte dan saling menyingkirkan jika terjadi perbedaan pendapat di antara kita; masih suka dengan ‘money politics’, dan kampanye yang tidak cerdas dengan melibatkan masyarakat yang belum berusia dewasa. Ada aroma dendam yang sangat kuat di masyarakat kita khususnya para elite politik untuk menyingkirkan satu sama lain, bukannya bersaing dengan gagasan bagi masa depan bangsa. Orang-orang yang terlihat cendekiawan dan berpikiran kritis (katanya akademisi) tapi ternyata hanya ditunggangi oleh kepentingan politik tertentu, bukan menyuarakan kebenaran sesungguhnya dan memberikan keseimbangan bagi porsi pemikirannya, tapi semua seolah menjustifikasi kebenaran miliknya sendiri dan menghina orang lain.

Pemikiran seperti ini terlihat cerdas di mata publik yang mudah ditipu dengan rangkaian kata-kata yang menghipnotis karena kekritisannya, tapi sebenarnya mengandung racun pemaknaan karena mengirim kebencian yang terlalu dalam, sehingga lupa kalau seorang akademisi harusnya berpikiran seimbang, mengakui ada ketidakbenaran dan ada kebenaran dan meluruskannya.

Dalam masyarakat yang beradab, demokrasi dijunjung tinggi untuk membuat kita menjadi kritis dalam memilih tokoh yang layak memimpin ke depan, tentu saja dengan pertimbangan yang objektif dan bukan dengan perasaan belaka, antara suka atau tidak suka. Kalau seperti itu masyarakat kita, yang hanya memahami perbedaan itu dari pendirian politik yang kita miliki tanpa mengakui ada perbedaan lain, maka kita belum melangkah masuk ke peradaban yang lebih maju. Dan sangat disayangkan, para elite politik kita terlalu suka memainkan isu primordialisme dan agama serta sentimen pribadi untuk menjatuhkan lawan politik, bukannya mencerdaskan masyarakat. Itu sebabnya, banyak elite politik yang memainkan kata indah, melempar kebencian dan membuat hoaks yang jauh dari kebenaran itu sendiri.

Dan kalau seperti itu, terjadi terus maka bukan akan menggerus suara elektabilitas saja, tapi menggerus kebenaran dan kemampuan berpikir logis masyarakat. Mereka yang memikirkan nasib negeri ini, tidak menjalankan peran dengan menimbulkan kegaduhan karena kebencian, sehingga semua cara dipakai bahkan tidak mendidik. Sayang sekali, sebagian besar manuver elite politik dan beberapa akademisi memperlihatkan betapa pesta demokrasi dijadikan lahan untuk memanipulasi logika akal sehat publik, yang tujuannya adalah berebut kekuasaan, bukan mencerdaskan publik. Katanya orasi publik dan membangun nalar akal sehat; tapi sesungguhnya kontennya adalah menjatuhkan dengan penuh kebencian karena berbeda pandangan. Mereka yang merasa diri paling benar dan terpelajar hanya akan mempermalukan diri sendiri, karena sesungguhnya mereka mempertontonkan kebodohan dengan cara bernalarnya.

Pesta demokrasi adalah sebuah hajatan untuk bergembira dan bernalar dengan positif, sudah seharusnya kita membangun logika yang baik dan memberikan pencerahan serta pemahaman ke publik apa yang kita ketahui, rencana kita membangun negeri ini dan bagaimana kita saling menghormati dalam perbedaan itu, sehingga pesta demokrasi adalah arena membangkitkan akal sehat masyarakat dengan penuh kegembiraan. Niscaya kita sebagai suatu bangsa, akan menuju peradaban yang lebih baik. Akal sehat adalah cara terbaik yang harus dipakai untuk membantu negeri ini terus menjadi kuat dan berkembang, karena di sanalah kita menentukan nasib bangsa dan Negara ini.

Selamat menggunakan akal sehat bagi para elite dan masyarakat untuk menyambut pesta demokrasi yang akan segera tiba. (*)

Baca: 5 Fakta Sidang Ratna Sarumpaet, Fadli Zon Disebut Turut Jadi Penyebar Hoaks Pertama

Baca: Ini Alasan Wiranto Beberkan Pernyataan, Penyebar Hoaks Bisa Dikenakan UU Terorisme

Baca: Mengaku Sering Terima Fitnah dan Hoaks, Hanum Rais Singgung Pernyataan Jokowi

Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved