Massa Anti-Brexit Penuhi Jalanan London

Jalanan London pada Sabtu (23/3/2019) dipenuhi oleh warga Inggris yang menuntut referendum lain terkait keanggotaan Uni Eropa

Massa Anti-Brexit Penuhi Jalanan London
REUTERS/Neil Hall
Ilustrasi warga Inggris memprotes Brexit. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, LONDON – Jalanan London pada Sabtu (23/3/2019) dipenuhi oleh warga Inggris yang menuntut referendum lain terkait keanggotaan Uni Eropa, ketika negara itu mengalami kelumpuhan politik atas Brexit.

Diwartakan kantor berita AFP, penyelenggara mengklaim ada sekitar 1 juta orang yang menentang Inggris meninggalkan Uni Eropa ikut dalam salah satu aksi protes terbesar dalam beberapa dekade di negara itu. Unjuk rasa bertajuk "Put it to the People" memperlihatkan warga menuju ibu kota melalui jalan dan kereta api di seluruh Inggris.

Dengan mengenakan sederatan simbol anti-Brexit dan bendera Uni Eropa, massa pertama kali berkumpul di Hyde Park sebelum akhirnya berjalan sekitar 3 km ke Westminster.

Mereka bersiul, bersorak, dan mengalunkan nyanyian. Seorang demonstran bernama Emma Sword menyebut macetnya politik menyebabkan kengerian.

"Kami perlu mencabut Pasal 50 dan jika kami tidak bisa melakukan itu, maka kami mebutuhkan suara rakyat," katanya, merujuk pada mekanisme hukum Uni Eropa yang diminta Inggris untuk Brexit. Seorang veteran Perang Dunia II Stephen Goodall melakukan perjalanan 300 km dengan ketera api menuju London bersama empat generasi keluarganya.

"Saya adalah pria tua dan hasilnya tidka akan mempengaruhi saya. Tapi itu akan mempengaruhi keluarga saya dan orang yang saya kenal," tuturnya.

Unjuk rasa itu juga diikuti oleh Menteri Utama Skotlandia Nicola Sturgeon, Wali Kota London Sadiq Khan, dan wakil pemimpin Partai Buruh Tim Watson. "Kami melihat bagaimana pemerintah mengabaikan peringatan kami berkali-kali," ujar Khan. "Sudah waktunya untuk mengatakan dengan keras dan jelas, cukup sudah," imbuhnya.

Seperti diketahui, para pemimpin Eropa sepakat untuk menunda kepergian Inggris dari UE. Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Theresa May berada di bawah tekanan untuk mengundurkan diri.

Penundaan Brexit yang sebelumnya ditetapkan pada 29 Maret 2019 membuat May mengajukan tawaran baru untuk mendapat dukungan parlemen terkait kesepakatan Brexit.

Jika dia berhasil, Inggris akan meninggalkan UE pada 22 Mei di bawah persyaratan perjanjian dengan Brussels pada tahun lalu. Tetapi jika parlemen mementalkan kesepakatan itu, Inggris harus menjabarkan rencana baru atau menghadapi Brexit tanpa kesepakatan pada 12 April. (Tribun/kps)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved