Sabtu, 18 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

4 kali Absen di Sidang PBB, ICYF Sebut Pemerintah Jokowi Kurang Berprestasi

ISLAMIC Conference Youth Forum (ICYF) menilai politik luar negeri Indonesia di masa pemerintahan Jokowi tampak kurang berprestasi

Editor: Rhendi Umar
scmp.com
Presiden RI Jokowi Widodo 

TRIBUNMANADO.CO.ID - ISLAMIC Conference Youth Forum (ICYF) menilai politik luar negeri Indonesia di masa pemerintahan Jokowi tampak kurang berprestasi.

Pasalnya Presiden Jokowi sudah 4 kali absen dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sehingga kemampuan diplomasi Jokowi sangat diragukan.

"Di era Jokowi urusan politik luar negeri terasa paling lemah, beda seperti presiden sebelum-sebelumnya, jauh berbeda dengan Soekarno atau Gusdur yang memiliki kemampuan diplomasi dan retorika yang sangat memukau," kata Vice President ICYF, Tantan Taufiq Lubis.

Padahal, ujar Tantan, banyak sekali isu kemanusiaan dunia yang membutuhkan peran aktif Indonesia dan dibutuhkan komunikasi intensif di antara pemimpin negara-negara bangsa.

Vice President ICYF, Tantan Taufiq Lubis.
Vice President ICYF, Tantan Taufiq Lubis. (istimewa)

Komunikasi intensif itu, kata Tantan, untuk membangun kesepahaman bersama bagaimana membangun dunia yang beradap, damai dan berkeadilan.

"Kemunduran politik luar negeri (Polugri) kita mungkin bukan hanya soal pengalaman dari Jokowi ,tetap juga masalah nyali," ujar Tantan yang juga Chairman Executive Board Indonesia National Youth Council (KNPI) ini.

"Jokowi seolah memaknai politik bebas aktif kita sebagai bebas absen, atau boleh tidak aktif tanpa alasan yang rasional dan jelas mengingat banyak sekali forum internasional yang tidak dihadiri Jokowi, " ujar Tantan yang juga Chairman Executive Board Indonesia National Youth Council (KNPI) ini.

Baca: Massa Bolmong Datang Sejak Subuh, Tak Sangka Bakal Disambut Meriah, Prabowo Beri Hormat ke Warga

Menurut Tantan dalam UU 37 Tahun 1999 Tentang Hubungan Luar Negeri Indonesia yang mengusung prinsip bebas aktif, dibutuhkan kebijaksanaan dan inisiatif tinggi dari presiden sebagai kepala negara dan panglima diplomasi.

Sayangnya, ujar Tantan, Menlu Retno Marsudi sebagai bawahan presiden, tidak cukup mampu memainkan peran diplomasi kebangsaan secara baik.

"Sejauh ini tidak ada gagasan cerdas, ide original dan dobrakan bermakna dalam menyikapi sejumlah isu internasional. Peran Indonesia di forum-forum internasional terlihat lemah," pungkas Tantan.

Tantan mengingatkan agar Polugri memiliki pendalaman, penajaman visi, konsepsi jelas dan implementasi yang terukur sehingga mampu menjawab tantangan dan dinamika global.

Ia menegaskan dunia yang berubah cepat seperti sekarang ini, butuh respon yang sistematis dan terarah demi menjaga keseimbangan kepentingan nasional dan global.

Sejarah, kata Tantan, pernah punya presiden yang mumpuni dan disegani pemimpin dunia, sebut saja Soekarno, Soeharto, Habibie, Gusdur dan SBY.

"Mereka punya karakter yang khas dengan kualitas world leadership. Dan aktif mereka aktif dalam tiap dinamika internasional yang berkembang. Di situ peran Indonesia dipertimbangkan," ujar Tantan.

TONTON JUGA:

Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Wakil Presiden Organisasi ini Sebut Jokowi Panglima Diplomasi Terburuk Sepanjang Sejarah Indonesia

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved