Ini Tanggapan Aktivis 98 Terkait Pernyataan Agung Gumelar, soal Prabowo Subianto

Heboh pernyataan Jenderal TNI (purn) Agum Gumelar terkait keterlibatan Prabowo Subianto dalam kasus penculikan dan penghilangan paksa aktivis 1997/199

Ini Tanggapan Aktivis 98 Terkait Pernyataan Agung Gumelar, soal Prabowo Subianto
tribun makasar
Agung Gumelar 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Heboh pernyataan Jenderal TNI (purn) Agum Gumelar terkait keterlibatan Prabowo Subianto dalam kasus penculikan dan penghilangan paksa aktivis 1997/1998, mendapat respon dari SBY dan menimbulkan kontroversi di media sosial.

Ketua Umum Rumah Gerakan 98, Bernard Ali Mumbang Haloho, menyatakan dukungannya atas pernyataan Agum Gumelar.

“SBY dan Agum Gumelar harus memberikan keterangan kepada Komnas HAM dan Kejaksaan Agung (Kejagung) atas peristiwa penculikan dan penghilangan paksa. Demi keadilan,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Bernard menilai apa yang diutarakan Agum Gumelar bukan dari character assassination (pembunuhan karakter) terhadap SBY, presiden ke-6 ini.

“SBY kan saat itu (1998) juga bagian dari DKP yang menyidangkan dan memecat menantu Soeharto (Prabowo) dari militer. Ini adalah sebuah fakta sejarah dan jelas bukan merupakan pembunuhan karakter,” katanya.

Baca: Tanggapi Survei Litbang Kompas, TKN: Hasilnya akan Memotivasi Kami Bekerja Lebih Tekun

Menurutnya, SBY sebaiknya tidak memainkan dua peran. “Di satu sisi (SBY) mengatakan tidak mau berpolemik di depan publik dengan mengatakan situasi politik sudah panas bagaikan jerami di tengah gurun pasir, namun di sisi lain justru membiarkan Andi Arief mengeluarkan pernyataan politik yang serampangan dan membuat panas,” ungkapnya.

Namun, Bernard memahami fokus SBY yang saat ini sedang mendampingi istrinya. “Kepada Ibu Ani Yudhoyono sebagai ibu negara keenam yang mendampingi SBY menjalankan tugas negara selama sepuluh tahun, kami mendoakan ibu Ani agar diangkat penyakitnya dan mendapatkan kesembuhan, agar dapat kembali ke tengah keluarga tercinta,” tuturnya.

Tetapi, lanjutnya, persoalan penculikan dan penghilangan paksa aktivis 1997/1998 merupakan persoalan negara. Karena itu, Bernard berharap SBY dapat memisahkan persoalan pribadi dan persoalan bangsa.

Ia juga meminta kepada Komnas HAM dan Kejaksaan Agung untuk menindaklanjuti pernyataan Agum Gumelar dan SBY “Panggil mereka untuk dimintai keterangan. Sebagai lembaga negara yang independen, Komnas HAM jangan berlindung di balik alasan Pilpres, karena takut isu ini akan dijadikan komoditas politik,” tegasnya.

Baca: Ini Penjelasan Detail Cara Pengambilan 2.000 Responden yang Dipakai Survei Litbang Kompas

Baca: Meninggalnya Muhammad Rahim Warga Afganistan, Begini Tanggapan Kepala Rudenim Manado

Komnas HAM juga diminta untuk berfikir lebih maju, karena ini menyangkut keadilan bagi para korban dan demi bangsa.

Bernard menjelaskan, SBY saat menjabat sebagai Presiden telah mengabaikan Rekomendasi Rapat paripurna DPR tentang Pelanggaran HAM Berat dalam kasus Penghilangan Paksa Aktivis.

Menurutnya, demi keadilan, SBY dan Agum Gumelar sebaiknya mendatangi Kejaksaan Agung dan Komnas HAM untuk memberikan keterangan.

"Jangan sampai SBY sebagai pihak yang terlibat, justru karena pembiaran, dia bisa menjadi pihak yang melanggar keadilan,” pungkas Bernard.

Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Heboh Agum Gumelar Ungkap Kasus 1998, Aktivis 98 Bilang Begini

Editor: Rhendi Umar
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved