News Analysis

Fenomena Politik di Indonesia Menurut Pengamat Politik Goinpeace Tumbel

Kontestasi pemilihan umum (Pemilu) legislatif (Pileg ) 2019 ini dihuni para peserta yang cenderung muda dari segi usia.

Fenomena Politik di Indonesia Menurut Pengamat Politik Goinpeace Tumbel
TRIBUN MANADO/FERDINAND RANTI
Dr Goinpeace Tumbel 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Kontestasi pemilihan umum (Pemilu) legislatif (Pileg ) 2019 ini dihuni para peserta yang cenderung muda dari segi usia.

Tak bisa di pungkiri hadirnya para caleg muda terjun ke dunia politik karena pengaruh orang yang memegang posisi strategis di pemerintahan, yakni kepala daerah.

Spekulan bermunculan, mereka terjun di dunia politik karena lihat orang tuanya, bisa jadi juga disuruh orang tuanya.

Menurut Goinpeace Tumbel, pengamat Politik dari Universitas Negeri Manado (Unima) di Tondano, politik di Indonesia sudah menjadi fenomena di mana semenjak pelaksanaan pemilu legislatif pasca reformasi menunjukan 'kemunduran' soal kualitas produk pemilu legislatif.

Baca: Ketua Umum PSI Grace Natalie Kunjungi Gereja Protestan Maluku dan Keuskupan Amboina

Baca: Berita Terbaru, Jumlah Korban Banjir Bandang Sentani Jayapura: 89 Tewas, 74 Hilang

Baca: Survei LSI: Prabowo-Sandiaga Ungguli Jokowi-Maruf di Pemilih Pelajar

Jika dibandingkan dengan produk pemilu legislatif di zaman rezim orde baru, dimana pada zaman itu setiap caleg yang dimunculkan atau ditawarkan pada publik semuanya telah melalui proses pendidikan politik, kader setiap partai.

Sehingga pada umumnya caleg tersebut telah memiliki latar belakang sofftskil dan hard skill yang mumpuni.

Artinya semuanya telah memiliki kapasitas, bobot yang dibutuhkn saat menjalankan tugas dan fungsi legislatif dan juga memenuhi syarat prestasi, dedikasi, loyal dan tidak tercela.

Kondisi sekarang berbanding terbalik. Era yang memiliki tantangan dan permasalahan yang bersifat kompleks namun penyiapan caleg oleh partai kurang merespon kebutuhan, terutama dalam hal menjalankan tugas dan fungsi legislatif.

Pendidikan politik, dan pelatihan kurang dilakukan oleh parpol, sehingga mengakibatkn parpol kurang memiliki stok figur yang benar-benar memiliki kualitas dan kapasitas untuk menjalankan tugas legislasi.

Sebab itu proses rekruitmen dan seleksi caleg sering hanya mengedepankan kedekatan dan kekerabatan serta amunisi tertentu.

Terkait dampak yang ditimbul dalam lembaga legislatif atas hadirnya caleg muda 'karbitan' ketika terpilih/duduk terhadap kualitas politik itu sendiri.

Dalam arti, dengan pengalaman yang minim tapi harus berperan untuk proses politik kenegaraan.

Yang pasti bahwa hal tersebut akan berdampak pada lembaga legislatif. Dimana lembaga dewan dalam menjalankan tugas dan fungsinya akan kurang maksimal, karena tidak didukunğ oleh anggota legislatif yang benar-benar memiliki kemampuan.

Penggunaan hak-hak anggota dewan seperti hak mengajukan racangan Perda, penggunaan hak menyatakan pendapat atau hak interpelasi dan hak angket pasti ataupun untuk melakukan tugas reses disetiap dapil dengan konstituen sulit dilakukan oleh mereka.

Kalaupun ada hanya anggota dewan tertentu saja dan sebagian besar fungsi tersebut tidak dapat dijalankan oleh karena persoalan-persoalan klasik.

Penulis: Christian_Wayongkere
Editor: Siti Nurjanah
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved