Ekspor Sulawesi Utara tak Boleh Lagi Bergantung pada Kopra

Sulawesi Utara harus melakukan terobosan agar ekspor tak lagi bergantung pada kopra.

Ekspor Sulawesi Utara tak Boleh Lagi Bergantung pada Kopra
Istimewa
FGD Perdagangan Lintas Batas Disperindag Sulawesi Utara di Aryaduta Manado, Jumat (15/3/2019) lalu. 

TRIBUNMANADO.CO.ID- Sulawesi Utara harus melakukan terobosan agar ekspor tak lagi bergantung pada kopra. Selama ini, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara di sektor ekspor bertumpu pada produk turunan kelapa itu.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara Dr Ateng Hartono mengungkapkan, ketergantungan pada kopra berdampak negatif manakala harga komoditas tersebut jatuh di pasaran dunia.

"Sebelum Januari 2019, kopra, CCO (Crude Coconut Oil) dan tepung kelapa 50 persen dalam volume ekspor Sulawesi Utara," ujar Ateng dalam risalah FGD Perdagangan Lintas Batas Disperindag Sulut pekan lalu.

Baca: Antisipasi Kecurangan di Pasar, Disperindagkop Bolsel Adakan Mobil Metrologi Senilai Rp 1,5 miliar

Pada Januari 2019, kontribusi kopra, CCO dan tepung kelapa pada volume ekspor Sulawesi Utara tinggal 41 persen.

Penurunan harga kopra diikuti penurunan volume ekspor berdampak pada perlambatan Pertumbuhan Ekonomi (PE) Sulawesi Utara dari 6, 31 persen di triwulan 4 2018menjadi 6, 01 persen di triwulan 3 tahun ini.

"Artinya ketika ada penurunan kontribusi kopra, harus ada komoditas atau jasa lain yang bisa didorong untuk mendorong PE," katanya.

Katanya, Sulawesi Utara harus mendorong PE melalui peningkatan diversifikasi produk turunan komoditas andalan. "Kita juga akan sulit memetakan pertumbuhan ekonomi jika hanya mengandalkan konsumsi lokal dan satu komoditas," ujarnya.

Baca: Harga Karet Jatuh: Begini Rencana Indonesia soal Ekspor

Kepala Disperindag Sulawesi Utara, Jenny Karouw mengatakan, target ekspor nasional meningkat 7 sekian persen tahun ini.

Tahun lalu, meskipun ekspor nasional naik 6,8 persen tapi defisit 8,5 persen dari sisi volume. "Khusus di Sulut, angka ekspor naik 14 sekian persen tapi dari sisi volume turun," katanya.

Jenny memaparkan, pasar Uni Eropa menaikkan standarnya terhadap produk asal Sulawesi Utara. Selain harga kopra dunia yang jatuh, standar kualitas komoditas pala dan cengkih juga dinaikkan.

"Tantangan kedepan termasuk 2019 dengan berbagai kebijakan perdagangan dunia tidak menentu kita perlu mewaspadainya," ujarnya. (ndo)

Berita Populer: Perseteruan Kian Memanas, Nikita Mirzani Posting Foto Diduga Syahrini Cium Pria di Atas Ranjang

Penulis: Fernando_Lumowa
Editor: Herviansyah
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved