Dana Asuransi di SBN Masih Minim

Penempatan dana milik perusahaan asuransi di surat berharga negara (SBN) masih mini. Padahal Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Dana Asuransi di SBN Masih Minim
Thinkstock/Nelosa
Ilustrasi asuransi 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Penempatan dana milik perusahaan asuransi di surat berharga negara (SBN) masih mini. Padahal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengatur penempatan dana investasi perusahaan asuransi lewat Peraturan No 1/2016 tentang Penempatan Investasi Asuransi di SBN. Dalam aturan ini, pelaku asuransi Jiwa wajib menempatkan 30% dari dana investasinya di SBN. Sedang asuransi umum wajib 20%.

Data OJK per Januari 2019 mencatatkan penempatan investasi industri asuransi jiwa di SBN sebanyak Rp 63,4 triliun, atau setara 13,41% dari total dana investasinya yang senilai Rp 472,56 triliun. Namun bila dibandingkan dengan Januari 2018, nilai ini tumbuh 6,82% year on year (yoy) dari Rp 59,35 triliun.

Sedangkan penempatan dana investasi industri asuransi umum pada SBN per Januari 2019 senilai Rp 9,71 triliun atau 13,2% dari total dana investasi Rp 73,56 triliun. Namun penempatan dana investasi asuransi umum di SBN meningkat sebesar 8,61% yoy dibandingkan Januari 2018 senilai Rp 8,94 triliun.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu menyebut penempatan dana investasi di SBN underlying infrastruktur, obligasi atau surat utang yang dikeluarkan oleh perusahaan infrastruktur. "Jadi sejauh ini seluruh perusahaan asuransi jiwa sudah memenuhi ketentuan 30% tersebut, Tren penempatan dana investasi sejauh ini yang dominan di reksadana, setelah itu saham, lalu surat utang, ujar Togar.

Sementara Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dadang Sukresna menyatakan sudah memenuhi ketentuan penempatan dana investasi 20% di SBN.

Sejumlah Bank Mencari Dana Melalui IPO

Jumlah bank daerah yang akan melantai di bursa saham akan bertambah. Beberapa bank daerah merencanakan untuk melakukan penawaran saham perdana atau intial public offering (IPO).

 Dari 27 bank daerah, baru tiga bank yang telah berstatus emiten. Ketiganya PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat Tbk, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk, dan PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk.

Bank daerah yang berencana IPO adalah Bank DKI, Bank Kalimantan Selatan (Kalsel), Bank Sulawesi Utara dan Gorontalo (SulutGo), dan Bank Sumatera Selatan dan Bangka Belitung (Sumsel Babel).

Bank DKI telah memasukkan IPO dalam rencana bisnis bank (RBB) tahun ini. Bank DKI menargetkan melantai di tahun ini. Adapun Jeffry Dendeng, Direktur Utama Bank SulutGo memastikan Bank SulutGO belum akan IPO tahun ini karena fokus memperkuat modal lebih dulu. Sementara Bank Kalsel ingin IPO di tahun 2020.

Halaman
12
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved