Pertamina Mulai Nego Pembelian Minyak Mentah

Masih kami lakukan negosiasi itu kan untuk periode Juni ke atas, yang sudah dari Januari ke Juni,

Pertamina Mulai Nego Pembelian Minyak Mentah
net
Ilustrasi 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - PT Pertamina (Persero) kembali melakukan negosiasi untuk pembelian crude/minyak mentah domestik milik Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati menjelaskan Pertamina sudah melakukan kesepakatan dengan sejumlah KKKS untuk pembelian crude dari periode Januari-Juni 2019, namun untuk periode Juni dan seterusnya belum ada kesepakan.

"Masih kami lakukan negosiasi itu kan untuk periode Juni ke atas, yang sudah dari Januari ke Juni, kami sedang negosiasi untuk periode Juli onward," kata Nicke, Kamis (14/3).

Hingga awal Maret 2019, Pertamina mengaku telah melakukan kesepakatan dengan 29 KKKS dengan jumlah crude sebanyak 123.000 barel per hari (bph). Angka tersebut lebih besar dari kontrak pada bulan Januari 2019.

Kontrak Januari 2019, Pertamina baru bersepakat dengan 10 KKKS yaitu PT Chevron Pacific Indonesia (CPI), RH Petrogas Limited, PT SPR Langgak, PetroChina International Jabung Ltd, PT Bumi Siak Pusako, SAKA Pangkah Indonesia Ltd, PT Energi Mega Persada Tonga, Petronas Carigali Ketapang I Ltd, Husky CNOOC Madura Ltd dan PT Energi Mega Persada Tbk.

Estimasi total crude yang dibeli Pertamina dari 10 KKKS tersebut dalam periode Januari hingga Juni 2019 mencapai 2,5 juta barel per bulan. Ini berarti setiap harinya minyak mentah yang dibeli Pertamina dari KKKS mencapai 83.333 bph.

Namun ada salah satu KKKS yang hingga kini belum mencapai kesepakatan dengan Pertamina, yaitu ExxonMobil Indonesia yang mengelola Blok Cepu. Dari asumsi produksi Banyu Urip sebesar 208.000 bph, sebanyak 181.000 bph telah dijual kepada Pertamina.

Minyak sebanyak 181.000 bph tersebut merupakan bagi hasil milik pemerintah dan DMO ExxonMobil sebesar 71%, bagi hasil PEPC sebesar 13%, dan bagi hasil milik BUMD sebesar 3%.

Sisanya sebesar 13% dari total produksi atau sebesar 27.000 bph milik ExxonMobil telah terkontrak untuk diolah di kilang milik ExxonMobil. Sisa sebesar 27.000 bph inilah yang jadi incaran Pertamina.

Nicke pun menyebut sampai saat ini belum ada kesepakatan dengan ExxonMobil. "Belum, dengan yang lainnya semua sudah, untuk Corridor Januari sampai Juni sudah deal semuanya. Nah sekarang kami dengan semua pihak untuk Juli onward sedang negosiasi," imbuh Nicke.

Jika mengacu pada produksi rata-rata minyak Indonesia yang mencapai 775.000 bph, maka total minyak dari seluruh KKKS yang bisa dibeli oleh Pertamina mencapai sekitar 275.000 bph. Jumlah tersebut bisa mengurangi jumlah impor Pertamina yang berada di kisaran antara 350.000 bph sampai 400.000 bph.

Makanya Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Fajriyah Usman menyebut pembelian crude dari KKKS ini bisa menjamin ketersediaan suplai crude bagi Pertamina.

"Jika pembelian minyak mentah dan kondensat domestik, memberikan kenaikan atau manfaat bagi semua pihak baik buyer, seller, negara dan rakyat Indonesia pada umumnya, diantaranya yang paling penting adalah security of supply,"kata Fajriah.

Namun Fajriah tidak menyebut besaran dana yang telah dikeluarkan oleh Pertamina untuk membeli crude dari KKKS. Begitu juga dengan penghematan yang bisa didapat oleh Pertamina.

Dia hanya menyebut harga yang dibeli Pertamina menguntungkan. "Hasil kesepakatan kedua pihak pastinya menguntungkan kedua belah pihak dari berbagai aspek termasuk harga, security of supply dan lain-lain,"pungkasnya. (*)

Editor: Charles Komaling
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved