Sabtu, 11 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

WNI Korban Pesawat Ethiopian Menikah WN Italia

Satu warga negara Indonesia (WNI) bernama Harina Hafitz menjadi satu dari 157 penumpang dan awak korban tewas jatuhnya pesawat Ethiopian

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Facebook/Ethiopian Airlines
CEO Ethiopian Airlines Tewolde Gebremariam mendatangi lokasi jatuhnya pesawat pada Minggu (10/3/2019), di sekitar Kota Bishoftu atau Debre Zeit, sekitar 50 km sebelah selatan Ibu Kota Etiopia, Addis Ababa. Sebanyak 149 penumpang dan 8 kru tewas dalam kecelakaan itu, satu di antaranya WNI. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Satu warga negara Indonesia (WNI) bernama Harina Hafitz menjadi satu dari 157 penumpang dan awak korban tewas jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines di jenis Boeing 737 Max 8 di Ethopia pada Minggu (11/3) waktu setempat.

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI menyatakan, Harina Hafitz merupakan staf World Food Program (WFP), badan pangan yang bernaung di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Perempuan berusia 60-an tahun itu berdomisili di Roma Italia dan menikah dengan warga negara Italia.

"Almarhum menikah dengan warga negara Italia dan kita secara langsung menyampaikan dukacita kita kepada pihak keluarga yang bersangkutan," ujar Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno LP Marsudi di gedung DPR Senayan, Jakarta, Senin (11/3/2019).

Harina Hafitz bersama sejumlah staf PBB lainnya menumpangi pesawat tersebut untuk menghadiri pertemuan di Nairobi, Kenya. Hingga kemairn, jenazah Harina Hafitz belum ditemukan.

Juru bicara Kemenlu RI, Arrmanantha mengatakan, pemerintah Indonesia telah menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban. "KBRI Roma akan terus berkordinasi dengan keluarga korban, KBRI Addis Ababa dan Kantor WFP Roma untuk pengurusan jenazah dan dukungan bagi keluarga," tuturnya.

Adik laki-laki Harina Hafitz mengatakan bahwa kakaknya telah lama bekerja untuk WFP. Bahkan, kepergiannya ke Nairobi adalah dalam rangka mengikuti pertemuan PBB di Nairobi, Kenya. "Beliau sempat kirim Whatsapp ke saya hari Sabtu (9/3), memberitahu dapat tugas ke Nairobi. Pesawatnya dari Roma transit dulu di Addis Ababa," ujar Hari Lutfi.

Harina, menurut Hari, telah berdomisili di Kota Roma, Italia, selama puluhan tahun. Dia meninggalkan suaminya yang berkebangsaan Italia dan dua anak. "Suaminya dan kedua anaknya masih shock, belum tahu harus bagaimana," kata Hari, adik langsung dari Harina yang merupakan sulung dari empat bersaudara.

Seorang keponakan Harina mengatakan pihak keluarga sedang menunggu kabar dari WFP dan Ethiopian Airlines. "Semasa hidupnya, beliau ada seorang pekerja keras," kata Sevila, anak dari adik bungsu Harina.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB, Atonio Guterres, sangat berduka atas insiden jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines yang menewaskan 157 orang, termasuk belasan staf PBB. Guterres menyatakan PBB terus berkomunikasi dengan otoritas Ethiopia terkait para staf yang ikut menjadi korban.

"Dia menyampaikan simpati mendalam dan solidaritas untuk keluarga dan orang-orang tercinta para korban, termasuk pada anggota staf Perserikatan Bangsa-Bangsa, juga menyampaikan belasungkawa tulus kepada pemerintah dan rakyat Ethiopia," demikian pernyataan Sekjen PBB seperti dilansir AFP.

Direktur Organisasi Migrasi Nasional (IOM), Antonio Vitorino, dalam pernyataannya menyebut sedikitnya 19 staf lembaga-lembaga terkait PBB tewas dalam kecelakaan pesawat itu. Jumlah itu belum final karena diketahui hanya beberapa orang yang mengabarkan rencana perjalanan mereka ke pihak PBB. Beberapa orang lainnya tidak mengabarkan sama sekali. Selain itu, tidak semuanya memakai paspor PBB untuk bepergian.

Selain IOM, sebut Vitorino, staf PBB yang tewas bekerja diketahui untuk lembaga-lembaga seperti World Food Program, UN Refugee Agency, World Bank dan UN Environment Agency. Para staf PBB itu diketahui terbang dengan Ethiopian Airlines menuju Nairobi, Kenya untuk menghadiri konferensi PBB di sana.

Pesawat Boeing 737 MAX 800 milik Ethiopian Airlines yang mengangkut 157 penumpang dan awak jatuh setelah 6 menit lepas landas dari Addis Ababa Bole International Airport, Etiopia menuju Nairobi, Kenya, Minggu (10/3). Otoritas setempat melansir seluruh penumpang dan awak pesawat tewas. Sebanyak 149 penumpang dan 8 awak pesawat berasal dari 35 negara berbeda.

Manifes penumpang terdiri dari 32 warga Kenya, 18 warga Kanada, 9 orang warga Etiopia, 8 warga Italia, 8 warga Tiongkok, 8 warga Amerika, 7 warga negara Inggris, 7 warga negara Prancis, 6 warga negara Mesir, 5 warga negara Belanda, 4 warga India, 4 orang dari Slovakia, 3 warga Austria, 3 Swedia, 3 Rusia, 2 Maroko, 2 Spanyol, 2 Polandia dan 2 Israel.

Sementara Belgia, Indonesia, Somalia, Norwegia, Serbia, Togo, Mozambik, Rwanda, Sudan, Uganda, dan Yaman masing-masing satu orang.

Belum ada kejelasan penyebab dari jatuhnya Ethiopian Airlines, karena masih dalam penyelidikan. (tribun network/berbagai sumber/rin/coz)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved