Breaking News:

Upaya Pemerintah dan NGO Kurangi Ancaman Terhadap Satwa Liar di KPHK Tangkoko

EPASS Tangkoko bersama pengelola KPHK Tangkoko dalam hal ini Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulut

Penulis: Finneke Wolajan | Editor:
TRIBUNMANADO/FINNEKE WOLAJAN
suasana kegiatan konservasi di TWA Tangkoko Batuputih 

TRIBUNMANADO.CO.ID, BITUNG - EPASS Tangkoko bersama pengelola KPHK Tangkoko dalam hal ini Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulut dan masyarakat menggelar kegiatan dengan fokus utama peningkatan kapasitas pengelola kawasan.

"Juga pengurangan ancaman terhadap satwa kunci yang ada di dalam Kawasan KPHK Tangkoko," ujar Lilik, dari EPASS Tangkoko, Senin (11/3/2019).

Satwa kunci yang ada adalah Maleo (Macrocephalon maleo), Yaki (Macaca nigra), Anoa (Buballus depresicornis), Babirusa (Babirusa babyrousa). Yang ada di KPHK Tangkoko antara lain Maleo dan Yaki.
Satwa lain yang ada di Tangkoko, Tarsius, Burung Rangkong, Kus-kus, Raja Udang, Burung Gosong, Musang Sulawesi.

Menurut Lilik, tujuan dari kegiatan ini yakni peningkatan kapasitas pengelola kawasan dilakukan dengan melaksanakan berbagai training untuk peningkatan wawasan SDM pengelola terkait dengan pengelolaan kawasan konservasi, pelaksanaan program Smart Patrol RBM (resort base management) di resort TWA Batuputih dan TWA Batuangus.

Baca: Kisah Warga Pesisir Taman Wisata Alam Tangkoko, Warga Usir Yaki Pakai Anjing Peliharaan

"Serta kegiatan lainnya misalnya studi banding bersama pengelola ke wilayah yang lebih baik pengelolaan kawasan konservasinya di Indonesia," jelasnya.

Selain itu, program ini untuk pengurangan ancaman terhadap satwa liar dilakukan dengan cara sosialisasi kepada masyarakat sekitar kawasan, kampanye penyadartahuan terkait dengan satwa liar yang dilindungi; pemahaman kepada masyarakat pentingnya satwa kunci untuk pariwisata yang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat.

"Pembuatan iklan perlindungan satwa liar di cinema 21, pembuatan regulasi berupa perda perlindungan satwa liar di Kota Bitung. Pembentukan satgas perlindungan anti perdagangan satwa yang dilindungi di kota bitung," katanya.

Program ini merupakan program dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang diimplementasikan oleh Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati. Di daerah proyek ini dilaksanakan oleh Unit Pelaksana Teknis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, BKSDA Sulawesi Utara dan TN Bogani Naniwartabone di Provinsi Sulawesi Utara.

"Selama ini berbagai macam LSM/NGO yang telah berpartisipasi dengan EPASS, antara lain MNP-macaca Nigra Project, WCS-wildlife conservation society, PPS Tasikoki, Burung Indonesia, PKT dan YSYI," jelasnya. (fin)

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved