Pengamat IPI Sebut Hoaks itu Penyakit Modern, Diperkirakan Ada 800.000 Konten di Indonesia

Hoaks terus merajalela jelang pilpres 17 April mendatang dan ini merupakan penyakit modern yang bisa membunuh karakter manusia

Pengamat IPI Sebut Hoaks itu Penyakit Modern, Diperkirakan Ada 800.000 Konten di Indonesia
Istimewa
Jerry Massie 

Pengamat IPI Sebut Hoaks itu Penyakit Modern, Diperkirakan Ada 800.000 Konten di Indonesia

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Hoaks terus merajalela jelang pilpres 17 April mendatang dan ini merupakan penyakit modern yang bisa membunuh karakter manusia. Begitupula dengan radikalisme, intoleransi dan SARA.

Hal itu dikatakan pengamat politik dari Indonesian Public Institute (IPI) Jerry Massie

Menurut Jerry, kata 'hoaks' dalam bahasa aslinya 'hocus' yang berarti, mengelabui.

Jerry pun mencontohkan dalam 1 menit ada 3,3 juta pesan yang dikirim melalui facebook dan 43 juta WA dan berpotensi hoaks cukup banyak.

Bukan hanya itu, konten hoaks di Indonesia mencapai 800 ribu. Dan selama 2019 ini saja sudah ada 62 konten hoaks yang terindentifikasi.

Baca: Bulan Agustus 2018 Sampai Februari 2019, 771 Hoaks Diidentifikasi Kominfo

Baca: Silangen Katakan Hoaks Memecah Belah Masyarakat

"Direktorat cyber crime mabes Polri saja sepanjang 2017 mencatat lalu menetapkan 10 tersangka dari 28 kasus hoaks, hate speech 171 tersangka 37, serta paham radikal 34 kasus yang dijadikan tersangka 4," jelas Jerry kepada tribunmanado.co.id, Kamis (7/3/2019).

Selain hoaks ujarnya, ada lagi yang bisa merusak demokrasi yakni, intoleran.

Lebih lanjut dia mengatakan, dari data yang dirilis Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah 2018 menunjukkan, sebanyak 63,07 persen guru memiliki opini intoleran pada pemeluk agama lain. Sedangkan guru yang mempunyai opini toleransi terhadap pemeluk agama lain mencapai 36,92 persen.

Ilustrasi penyebar hoaks
Ilustrasi penyebar hoaks (Istimewa)

"Untuk masalah radikalisme ada yang positif ada pula yang negatif," kata dia.

Halaman
12
Penulis: Ryo_Noor
Editor: David_Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved