Seminar Permesta di Jakarta, Sondakh: Seandainya Sam Ratulangi Tak Meninggal

"Barangkali Amerika so beking bodok pa torang terkait persaingan ideologi komunis. Ini cuma hipotesis," ujar Prof Lucky Sondakh, mantan Rektor Unsrat.

Seminar Permesta di Jakarta, Sondakh: Seandainya Sam Ratulangi Tak Meninggal
Tribun Manado
Prof Lucky Sondakh, mantan Rektor Unsrat Manado, memaparkan pandangannya tentang Permesta dalam seminar “Sejarah dan Nilai-nilai Perjuangan Rakyat Semesta demi Keutuhan NKRI” di Kampus IBM ASMI, Jalan Pacuan Kuda, Pulomas, Jakarta Timur, Sabtu (2/3/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Manado David Manewus

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Sejumlah tokoh mengupas perjuangan Permesta dalam seminar bertajuk “Sejarah dan Nilai-nilai Perjuangan Rakyat Semesta demi Keutuhan NKRI” di Kampus IBM ASMI, Jalan Pacuan Kuda, Pulomas, Jakarta Timur, Sabtu (2/3/2019).

Seminar ini menghasilkan koreksi atas paradigma yang diberikan negara terhadap para pejuang dan perjuangan Permesta.

Stigma yang melekat, Permesta merupakan aksi pemberontakan untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Saya termasuk saksi langsung. Pada waktu umur 11-12 tahun saya sudah bertemu dengan Pak Sumual (Ventje N Sumual) dan Kawilarang (Kolonel Alexander Evert Kawilarang). Anak-anak remaja sudah terlibat dan dilibatkan," kata Prof Lucky Sondakh, mantan Rektor Unsrat Manado.

Baca: Seminar Permesta di Jakarta, Angelica Tengker: Kami Bukan Anak-anak Pemberontak!

Baca: Kisah Cinta Kapten Lengkong di Balik Peristiwa Permesta, Antara Keluarga dan Menjaga Tanah Minahasa

Sebagai seorang akademisi, ia menilai tujuan Permesta itu ekselen; tindakan korektif atas jalannya NKRI.

"Sebagaimana sudah didirikan oleh para tokoh bangsa termasuk peran signifikan dari tokoh Minahasa. Seandainya Sam Ratulangi tidak meninggal, barangkali para jenderal akan mendapat nasihat dari beliau bagaimana tujuan emas ini bisa dianalisa dan dicapai dengan strategi yang baik. Kajian penting supaya berhasil. Mungkin sejarahnya menjadi lain. The power of mind itu mesti memimpin sebagaimana para pendiri bangsa," katanya.

Kata Sondakh, facing the future (menatap masa depan) lebih penting daripada melihat masa lalu belaka.

"Toh Permesta sudah terjadi. Pemberontak itu adalah PRRI, Bukan permesta. Permesta lebih pertimbangan ekonomi. Konspirasi internal dan eksternal. Barangkali Amerika so beking bodok pa torang terkait persaingan ideologi komunis. Ini cuma hipotesis," ujarnya.

BERITA POPULER:

Baca: Cerita VRP, Bocah 13 Tahun Merawat 2 Adiknya Ditinggal Ibu di Manado: Tuhan Tolong Bawa Ibu Kembali

Baca: Keluar dari Polisi 8 Tahun Lalu, Norman Kamaru Kini Sudah Punya Istri Baru, Intip Potretnya!

Baca: Kisah 30 Kopassus TNI Lawan 3 Ribu Pemberontak Kongo, Bermodal Jubah dan Bawang Putih

Seminar digelar bertepatan dengan hari ulang tahun deklarasi Piagam Permesta pada 2 Maret 1957.

Dalam seminar tersebut juga diputarkan audio narasi proklamasi Piagam Permesta yang disuarakan langsung oleh Ventje N Sumual, tokoh Permesta.

Sejumlah tokoh yang hadir di antaranya mantan Penjabat Gubernur Sulut Soni Sumarsono, Benny Tengker, JF Warow, dan Dr Benni E Matindas. (*)

TONTON JUGA:

Penulis: David_Manewus
Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved