Pelapor Kasus Pengaturan Skor Diancam Dibunuh

Mantan Manajer klub Persibara Banjarnegara, Lasmi Indaryan, mendatangi kantor Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban

Pelapor Kasus Pengaturan Skor Diancam Dibunuh
kompas.com
Lasmi Indaryani 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Mantan Manajer klub Persibara Banjarnegara, Lasmi Indaryani, mendatangi kantor Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) di Jalan Raya Bogor, Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (1/3) kemarin. Ia meminta perlindungan saksi lantaran mengaku mengalami intimidasi dan teror lewat media sosial setelah melaporkan kasus pengaturan skor ke polisi.

“Permohonan untuk perlindungan saksi karena mungkin sekarang tersangkanya semakin banyak, di luar ekspetasi kami. Mungkin kalau kemarin tersangkanya hanya Mbah Pri (Priyanto, anggota Komisi Wasit) dan Tika, mungkin saya masih belum perlu perlindungan. Karena ini sudah semakin banyak dan petinggi-petinggi PSSI sudah menjadi tersangka, saya merasa perlu untuk meminta perlindungan,” ujar Lasmi Indaryan didampingi pengacara Boyamin Saiman di LPSK, Ciracas, Jakarta Timur.

Meski belum mengalami intimidasi secara fisik, Lasmi mengaku pernah diancam akan dibunuh orang tak dikenal. Menurut dia, intimidasi ini sebagian besar datang dari orang tak dikenal lewat media sosial seperti Instagram, Twitter, hingga Whatsapp.

Menurutnya, ada pelaku yang sudah terlacak akun media sosialnya, tetapi setelah diselidiki ternyata akun tersebut palsu. "Orang tidak dikenal mungkin kalau mungkin yang sudah tahu orangnya saya enggak bisa ngomong di media. Itu memang dicari pelakunya, tetapi memang pakai akun palsu jadi perlu didalami. Jadi, mungkin kepolisian yang lebih bisa jawab," kata Lasmi.

Karena hal itulah kemudian ia memutuskan untuk meminta perlindungan ke LPSK.

Lasmi Indaryani selaku mantan Manajer Persibara Banjarnegara merupakan salah satu pelapor kasus pengaturan skor bola ke kepolisian.

Pada acara Mata Najwa, Lasmi Indriyani sempat mengutarakan bahwa ia dimintai uang sebesar Rp 500 juta oleh Johar Lin Eng (Anggota Komisi Eksekutif atau Exco PSSI) bila ingin menjadi tuan rumah babak penyisihan grup Liga 3 2018. Bahkan, dia juga mengaku sudah menghabiskan uang sebesar Rp 1,3 miliar kepada Johar.

Laporan Lasmi yang ditangani oleh Satgas Antimafia Bola Polri,  telah menyeret 16 orang sebagai tersangka. Mulai pejabat dan petinggi di PSSI, wasit, hingga perangkat pertandingan lainnya.

Tak hanya Liga 3, Liga 2 dan Liga 1, Satgas Antimafia Bola juga menyasar pengusutannya pada aliran dana di tubuh PSSI terkait kasus pengaturan skor tersebut.

Bahkan, Pelaksana tugas (Plt) Ketua Umum PSSI Joko Driyono ditetapkan sebagai tersangka lantaran diduga memerintahkan OB dan sopir untuk merusak barang bukti kasus pengaturan skor di kantor Komdis PSSI. (kompas.com/coz)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved