Ciptadana Tawarkan DIRE Properti Industri

PT Ciptadana Asset Management (Ciptadana AM) kembali membundel aset properti dalam produk Dana Investasi Real

Ciptadana Tawarkan DIRE Properti Industri
KOMPAS
Surabaya mengalami lonjakan harga lahan dan properti sangat tinggi. Ini dipicu oleh masifnya pembangunan properti. Seperti tampak dalam gambar, aktivitas alat berat di proyek Tunjungan City milik Grup Pakuwon. 

 TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - PT Ciptadana Asset Management (Ciptadana AM) kembali membundel aset properti dalam produk Dana Investasi Real Estate (DIRE). Kini, Ciptadana AM telah menerbitkan tiga DIRE.

Beberapa hari lalu, Ciptadana merilis DIRE ketiga. DIRE dengan nama DIRE Ciptadana Properti Industri Indonesia (DIRE Properti Industri) ini berisi gedung kantor dan pabrik senilai Rp 340 miliar. Sementara produk DIRE Properti Industri ini sebesar Rp 195 miliar. Charisma Siasi, Direktur Divisi Marketing PT Ciptadana Management bilang, belum memasang angka yang pasti, karena masih dalam diskusi internal.

Tapi Charisma mengatakan, DIRE Properti Industri belum dicatatkan di BEI. Ini artinya, investor masih bisa membeli DIRE melalui broker. "Dengan 10.000 ekuivalen bisa beli. Jadi investor ritel bisa akses tinggal hubungi broker atau kantor sekuritas," kata Charisma, Selasa (26/2). Begitu pun sebaliknya bila investor ingin menjual unit penyertaan DIRE.

Kinerja Dua Emiten Halo-Halo Merosot

Sepanjang 2018, kinerja dua emiten telekomunikasi alami penurunan. Ini tampak dari laporan keuangan PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL) .

ISAT memang belum resmi memaparkan kinerjanya. Tapi berdasarkan laporan induk usahanya, Ooredoo, pendapatan Indosat pada tahun lalu merosot 22,69% menjadi Rp 23,14 triliun secara tahunan.

Untuk earnings before interest, taxes, depreciation and amortization (EBITDA) ISAT juga turun 43,9% menjadi Rp 7,68 triliun. Laporan Ooredoo memaparkan, merosotnya EBITDA Indosat pada kuartal IV akibat biaya investasi untuk ekspansi jaringan dan biaya pemasaran.

Hasilnya, populasi 4G ISAT sudah mencapai 80% dan jumlah Base Transceiver Station (BTS) 4G naik menjadi 17.000. Pelanggan juga terus bertambah menjadi 58 juta. ISAT juga telah meluncurkan layanan 4G Plus di empat provinsi. Saat ini, ISAT berusaha merealisasikan penyesuaian tarif untuk setiap lini produk demi meningkatkan revenue share.

EXCL juga mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 3,30 triliun pada 2018 dari tahun 2017 yang masih mencetak untung bersih Rp 375,24 miliar. Sementara, pendapatan XL sebesar Rp 22,94 triliun, naik 0,27% secara tahunan.

Menurut Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji, merosotnya kinerja kedua emiten tersebut disebabkan iklim investasi bidang telekomunikasi yang kompetitif. "Karena di Indonesia banyak pemain," ujar dia, Selasa (26/2).

Meski kinerja emiten telekomunikasi memburuk, pergerakan harga saham duo emiten ini justru naik pesat sepanjang tahun ini. Harga saham ISAT, misalnya, naik 86,94% menjadi Rp 3.150 secara year to date (ytd). Sedangkan EXCL naik 26,26% jadi Rp 2.500 per saham (ytd).

Namun dalam beberapa hari terakhir, harga saham emiten telekomunikasi ini cenderung turun karena sentimen kinerja. Kemarin, saham ISAT turun 3,47%. "Turunnya rating ISAT dari Fitch juga menjadi sentimen negatif bagi ISAT," jelas Nafan.

Group Head Corporate Communications Indosat Ooredoo Turina Farouk menambahkan, meski outlook negatif, Pefindo dan Fitch Indonesia masih tetap memberikan rating AAA bagi ISAT. Moody’s juga memberikan outlook stable untuk ISAT.

Secara industri, Mino analis Indo Premier Sekuritas yakin, prospek emiten halo-halo masih positif. Apalagi, pemerintah mengeluarkan peraturan mempermudah konsolidasi. (Aldo Fernando/Danielisa Putriadita)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved