Sri Mulyani: Orang Terkaya Bukan Pengusaha Berlian

Fenomena pergeseran model binsis yang lebih berpusat pada pelanggan (customer centris) muncul pada era revolusi industri 4.0.

Sri Mulyani: Orang Terkaya Bukan Pengusaha Berlian
ANIS EFIZUDIN
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kanan) menunjukkan piala pada sesi Global Market Award Ceremony dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Sabtu (13/10). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mendapatkan penghargaan Finance Minister of the Year for East Asia Pacific Awards dari majalah ekonomi Global Markets. ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Anis Efizudin/wsj/2018. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Fenomena pergeseran model binsis yang lebih  berpusat pada pelanggan (customer centris) muncul pada era revolusi industri 4.0.  Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan dengan pergeseran model bisnis tersebut, keberadaan data menjadi sangat penting untuk membaca perilaku pelanggan karena hampir semua transaksi tercatat secara elektronik.

"Sekarang ini, data menjadi sangat penting, karena ini yang dulu kita igin tahu siapa yang kita layani biasanya perlu menggunakan survei. Kalau semua transaksi bisa gunakan elektronik, semua transaksi digital pilihan itu tercapture oleh teknologi," ujar Sri Mulyani ketika memberikan paparan di acara Peluncuran Data Sampel BPJK Kesehatan di Jakarta, Senin (25/2).

"Sehingga data realtime tahu persis berapa jumlah penjualan pajak hari Minggu. Saya bisa tahu dia beli martabak manis atau asin, saya tahu persis orang sekarang beli baju tren seperti apa, you don't have to survey," ujar dia.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut mengatakan, investasi data di masa kini sama seperti investasi di tambang. Pada era reformasi industri 4.0, pelaku bisnis akan dianggap kaya ketika memiliki sumber data yang besar.

Menurut Ani, perusahaan-perusahaan unicorn dalam negeri seperti Bukalapak, Tokopedia, atau pun Traveloka menjadi sumber tambang yang memiliki nilai sangat tinggi.

"Kalau dulu tambang itu emas, batu bara, atau tambang berlian, namun sekarang orang bicara manusai terkaya itu not natural resoruces, tapi mengenai data dan teknologi," ujar Ani.

Pembicaraan mengenai Unicorn yang muncul pada debat kedua capres pada Minggu (17/2) silam, masih menyisakan kesan bagi para pengusaha. Bahkan para pengusaha tertawa geli  saat mendengar sebutan bagi perusahaan rintisan (Start-up) yang bernilai 1 miliar dolar AS itu.

Hal itu terjadi saat Menteri Keuangan Sri Mulyani pidato di depan ratusan pengusaha yang dikumpulkan di Kantor Direktorat Jenderal Pajak, pekan lalu. Awalnya Sri Mulyani sedang membicarakan peranan dunia usaha menciptakan lapangan pekerjaan dan menggerakan ekonomi nasional.

"Saya tahu Indonesia tergantung kepada Anda semua, yang membuat lapangan pekerjaan itu anda, tidak diambil alih oleh pemerintah," ujar Sri Mulyani.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu lantas mengatakan, peranan itu tak memandang apakah itu perusahaan konvensional atau non-konvensional. "Yang punya ide untuk membuat dunia yang baru, entah itu digital atau non-digital, unicorn atau non-unicorn,..." kata dia.

Halaman
12
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved