Viral
Miris, Pelajar Jadi Target Perusahaan Rokok
Aktivitas merokok tidak hanya merambah di dunia orang dewasa, dunia anak-anak dan remaja juga mulai marak. Padahal banyak praktisi di bidang kesehatan
Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID-Aktivitas merokok tidak hanya merambah di dunia orang dewasa, dunia anak-anak dan remaja juga mulai marak. Padahal banyak praktisi di bidang kesehatan telah menyatakan rokok memiliki efek negatif dan bahaya bagi kesehatan.
Sayangnya peringatan itu tak lantas membuat para perokok berhenti mengisapnya.
Mirisnya banyak yang masih duduk di kalangan Sekolah Dasar (SD) juga kecanduan menikmati asap berisi kesenangan semu ini.
Seperti yang dikutip dari Tribun Lampung, sejumlah pelajar mengaku sudah merokok sejak SD. Satu faktor di antaranya karena pergaulan alias ikut-ikutan teman.
"Awalnya teman yang ngajak merokok. Lama-lama jadi kebiasaan. Akhirnya merokok sampai sekarang," tutur D, seorang pelajar SMA di Bandar Lampung.
D mengaku bisa membeli rokok dari menyisihkan uang jajan. Dalam sehari, ia mengaku merokok rata-rata dua batang.
"Ya sudah kecanduan. Saya merokok kalau lagi pening. Setelah merokok, jadi tenang," katanya.
A, pelajar SMA lainnya, juga menjadikan pergaulan sebagai alasan merokok. Dengan mengisap rokok, ia merasa lebih percaya diri.
"Jadi lebih pede (percaya diri) dengan merokok. Apalagi kalau lagi ngobrol sama orang lain," ujarnya.
Pelajar lainnya yang merokok sejak SD adalah B, pelajar kelas VII SMP. Namun sekarang, ia mengaku sudah berhenti merokok.
"Kecanduan merokok itu pas kelas VI. Teman setiap hari nyuguhin rokok, gratis," kata B.
Ia kemudian memutuskan berhenti total merokok ketika masuk SMP. Alasan berhenti merokok, menurut dia, karena merasa sesak di dada.
"Saya nggak merokok lagi. Sudah berhenti. Memang saya ini orangnya nggak kuat merokok," tutur B.
Apapun alasannya, remaja, apalagi masih bocah SD, tentu tidak boleh merokok.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bandar Lampung Eka Afriana menjelaskan, pelajar tidak boleh merokok, baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah.
"Siswa-siswi tidak boleh merokok di lingkungan sekolah. Guru-guru juga. Jelas, siapapun tidak boleh merokok di lingkungan sekolah," katanya, Minggu (24/2).
Eka menekankan, pelajar bisa bebas dari rokok karena lingkungan sekolah pun harus bebas dari nikotin. Namun, yang menjadi persoalan, jika para pelajar sudah di luar lingkungan sekolah.
Sebagai solusi, Eka pun mengingatkan peran keluarga untuk mencegah remaja maupun anak-anak merokok.
Penyuluhan
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatna Bandar Lampung Rosmini menjelaskan, saat ini sudah ada Peraturan Daerah tentang Kawasan Tanpa Rokok.
Satu di antaranya adalah sekolah, selain kantor pemerintahan dan lainnya.
"Sudah ada perda tentang itu. Termasuk sekolah, tidak boleh merokok bagi sivitas akademikanya," kata Rosmini.
Pihaknya pun miris dengan fenomena banyak remaja, bahkan bocah SD, sudah merokok.
Selama ini, pihaknya menekankan pendekatan keluarga melalui penyuluhan ABAT (Aku Bangga Aku Tahu).
"Program itu menyasar ke seluruh lapisan masyarakat melalui puskesmas," ujar Rosmini.
Selain tentang rokok, terang Rosmini, program ABAT juga mengulas tentang bahaya narkoba.
"Karena, pintu masuk orang sampai terjerumus ke dunia hitam narkoba itu bisa juga awalnya dari merokok," katanya.
Jadi Target Perusahaan Rokok
KOMUNITAS Generasi Tanpa Rokok (Getar) Lampung mengungkap bahwa pelajar atau kalangan usia dini memang menjadi target dari perusahaan rokok.
Pelajar merupakan sasaran empuk perusahaan rokok untuk "meregenerasi" atau memunculkan bibit-bibit perokok.
"Mereka itu (pelajar atau usia dini) jadi pengganti perokok lainnya. Perokok di Indonesia sangat cepat pertumbuhannya," kata Ismen Mukhtar, pendiri Getar Lampung, akhir pekan lalu.
Sebagai solusi, pihaknya berharap peran maksimal keluarga, tepatnya orangtua dari para pelajar.
"Orangtua harus mengontrol anaknya. Kalau sudah kecanduan (merokok), maka akan susah untuk berhenti," ujar Ismen.
Ia menerangkan, pertumbuhan perokok selalu meningkatkan setiap tahunn.
Pada tahun 2018 lalu misalnya, pihaknya mencatat pertumbuhan perokok sekitar 10 persen dari tahun sebelumnya, 2017.
"Dengan adanya pencegahan sejak dini, harapannya, tidak banyak lagi yang merokok, khususnya remaja dan anak-anak," harapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/seorang-pria-di-lampung-merokok-bersama-dua-orang-bocah.jpg)