Bumi Serpong Incar Marketing Sales Rp 6,2 Triliun

PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) menargetkan pendapatan pra penjualan atau marketing sales sebesar Rp 6,2 triliun pada tahun ini.

Bumi Serpong Incar Marketing Sales Rp 6,2 Triliun
tribunnews
Mata uang rupiah 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) menargetkan pendapatan pra penjualan atau marketing sales sebesar Rp 6,2 triliun pada tahun ini. Target tersebut ditopang proyek unggulan di segmen residensial dan komersial.

Direktur Bumi Serpong Damai Hermawan Wijaya, dalam keterbukaan informasi di bursa, mengatakan, penjualan properti residensial masih akan menjadi kontributor utama marketing sales tahun ini, yaitu mencapai 56% dari total target marketing sales. Sedangkan sisanya dari produk komersial, seperti tanah, ruko dan kondominium.

Pada tahun lalu, hasil marketing sales produk perumahan sebesar Rp 2,95 triliun atau meningkat 30% dibandingkan 2017 yang sebesar Rp 2,26 triliun. Secara unit, emiten Sinar Mas Group ini mencatat penjualan 1.299 unit atau naik dari 1.160 unit di tahun 2017.

Di segmen komersial, penjualan produk apartemen pada tahun lalu tercatat Rp 1,10 triliun, naik 195% secara tahunan. Jumlah unit yang terjual melonjak tajam dari 362 unit pada 2017 menjadi 1.138 unit pada tahun lalu.

Hermawan menjelaskan, proyek BSD City bakal tetap jadi kontributor utama marketing sales. Targetnya, marketing sales dari proyek ini mencapai 66%. Kamis (21/2), harga BSDE turun 1,13% di Rp 1.315.

BAJA Mengerek Produksi

PT Saranacentral Bajatama Tbk bertekad memperkokoh produksi baja. Pada tahun ini, Bajatama memproyeksikan volume produksi mencapai 140.000 ton. Jumlah itu tumbuh 37,25% dibandingkan realisasi produksi 2018 sebesar 102.000 ton.

Dengan estimasi volume produksi tadi, emiten berkode saham BAJA di Bursa Efek Indonesia (BEI) itu menargetkan kinerja bisnis tumbuh sebesar 20% pada tahun ini.

Direktur Utama PT Saranacentral Bajatama Tbk, Handjaja Susanto menyebutkan, untuk meningkatkan produksi itu, manajemen bakal memaksimalkan utilitas pabrik. Apalagi sepanjang tahun lalu mereka hanya memanfaatkan utilitas pabrik sekitar 45%.

Menurut Handjaja, peningkatan utilitas pabrik terdorong penerbitan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 110 Tahun 2018, yang merupakan revisi Permendag Nomor 22 Tahun 2018 tentang Ketentuan Impor Besi atau Baja, Baja Paduan dan Produk Turunannya.

Halaman
12
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved