Perkosaan Siswi SD Oleh Pacar Ibu di Malalayang, LSM: Masalah tak Selesai Hanya Menghukum Pelaku

Masalah buat korban tidak selesai hanya dengan dihukumnya si pelaku. Tapi bagaimana dia bisa melanjutkan kehidupanya ke depan yang harus dipikirkan

Perkosaan Siswi SD Oleh Pacar Ibu di Malalayang, LSM: Masalah tak Selesai Hanya Menghukum Pelaku
ISTIMEWA
Nur Hasanah, LSM Swara Parangpuan 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO- Peristiwa memilukan menimpa seorang gadis belia berumur 11 tahun. Sebut saja Melati (disamarkan), warga salah satu Kelurahan di Kecamatan Malalayang, Manado, Sulawesi Utara.

Siswi yang duduk di bangku kelas empat sekolah dasar ini dicabuli oleh calon ayah tirinya sendiri berinisial NM alias Ova (53), warga Desa Pakuweru, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan ( Minsel).

Peristiwanya terjadi di rumah kos-kosan di salah satu Kelurahan di Kecamatan Malalayang, Kamis (14/02/2019) pagi, sekitar pukul 10.00 Wita. Namun, baru dilaporkan ke Polsek Malalayang pada Minggu (17/02/2019).

LSM Swara Parangpuan angkat bicara. Nur Hasanah mengatakan kasus seperti ini sering terjadi di Manado. Banyak faktor yang memicu ini terjadi. Pertama soal kemiskinan di mana mungkin si ibu mencari tempat bergantung secara ekonomi sehingga ketika ada yang memberikan itu dia terima. "Bisa saja itu juga dia pikir demi anak tapi ternyata kenyataannya lain," ujarnya Senin (18/02/2019).

Baca: Siswi SD di Manado Disetubuhi 2 Kali oleh Pacar Ibunya di Indekos Kecamatan Malalayang

Kedua soal kontrol sosial di perkotaan yang longgar juga menjadi faktor. Di mana tingkat kepedulian lingkungan sekitar sudah mulai hilang. Selanjutnya soal minimnya pemahaman hukum dan Undang-undang terkait perlindungan anak di masyarakat.

"Penguatan perempuan sebagai kepala rumah tangga penting dilakukan baik secara ekonomi juga pemahaman akan hak-haknya. Kelompok-kelompok perempuan yang ada di lingkungan seperti PKK harus menyentuh. Bukan hanya untuk kepentingan anggotanya. Begitu juga dengan organisasi keagamaan untuk bisa merangkul masyarakat di mana pun," katanya.

Baca: (VIDEO) Siswi SD di NTT Diterkam Buaya di Belakang Rumah, Ayah Coba Selamatkan Tapi Gagal

Penegakkan hukum yang maksimal dan pemenuhan hak korban sebagai anak itu harus dipenuhi. Soal penyembuhan trauma, keberlanjutan pendidikannya dan lingkungan yang aman. Masalah buat korban tidak selesai hanya dengan dihukumnya si pelaku.

"Tapi bagaimana dia bisa melanjutkan kehidupanya ke depan yang harus dipikirkan. Tanya ke polisi korbannya dirujuk ke P2TP2A ? Untuk mendapatkan layanan psikolog misalnya," katanya. (fin)]

Berita Populer: Pegiat Medsos Beberkan Bukti Jokowi Keluar Tengah Malam Melihat Kondisi Nelayan

Penulis: Finneke Wolajan
Editor: Herviansyah
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved