Penuh Makna Mendalam, Sejarah Cap Go Meh dan Yuan Xiao (Goan Siau) di dunia dan di Manado

Cap artinya Sepuluh, Go artinya Lima, sedangkan Meh artinya Malam. Sedangkan lafal dialek Hakka adalah Cang Njiat Pan, artinya pertengahan bulan satu.

Penuh Makna Mendalam, Sejarah Cap Go Meh dan Yuan Xiao (Goan Siau) di dunia dan di Manado
ISTIMEWA
Ketua Komunitas Budaya Tionghoa Sulut Sofyan Yosadi 

TRIBUNMANADO.CO.ID-Cap Go Meh dijadwalkan pada tanggal 19 Februari 2019. Tribunmanado.co.id mengangkat kembali sejarah perayaan ini juga di Manado.

Sofyan Jimmy Yosadi SH (Yang Chuan Xian) tokoh Tionghoa Sulut seperti pernah ditulis sebelumnya pada 19 Februari 2017, mengatakan Cap Go Meh adalah dialek Hokkien untuk menyebut 十五暝 Shi wu wei (pinyin) yang melambangkan hari ke-15 di bulan pertama dan merupakan hari terakhir perayaan Tahun Baru Imlek bagi umat Khonghucu serta masyarakat Tionghoa yang turut merayakannya di seluruh dunia. Cap artinya Sepuluh, Go artinya Lima, sedangkan Meh artinya Malam. Sedangkan lafal dialek Hakka adalah Cang Njiat Pan, artinya pertengahan bulan satu.

"Di daratan Tiongkok dinamakan 元宵节 Yuan Xiao Jie, Bulan Pertama Zhen Yue 正月dalam penanggalan Imlek disebut juga dengan istilah Yuan Yue 元月. Jadi Yuan Xiao artinya adalah Malam dengan Bulan Purnama pertama dalam Tahun yang baru," tulisnya.

Baca: Jelang Cap Go Meh Manado, Panitia Siapkan Kolaborasi Tarian Kabasaran dan Musik Bambu

Perayaan Yuan Xiao katanya disebut juga dengan Perayaan Shang Yuan 上元节. Sembahyang Shang Yuan adalah ritual khas agama Khonghucu & Tao.

"Hal ini setidaknya berdasarkan Khonghucu dan Tao berakar sama dalam tradisi agama dari Tiongkok hanya 'dibedakan' pada pendekatan dan orientasi penjabarannya," katanya.

Jelang Cap Go Meh Manado, Panitia Siapkan Kolaborasi Tarian Kabasaran dan Musik Bambu
Jelang Cap Go Meh Manado, Panitia Siapkan Kolaborasi Tarian Kabasaran dan Musik Bambu (TRIBUN MANADO/THEODORON PONGANTUNG)

Shang Yuan adalah makna religiusitas dalam pengertian sembahyang dimulainya siklus kehidupan tahunan dalam kerja untuk mengolah bumi dan mendapatkan hasil bumi. Sembahyang besar Shang Yuan erat kaitannya dengan persembahyangan kepada San Guan Da Di yang disebut penguasa tiga alam dimana ketiga Shen Ming (Sien Beng dalam dialek Hokkian) yang secara harafiah diartikan roh suci dan erat kaitannya dengan Nabi Purba Ru Jiao (agama Khonghucu) dan merupakan pemimpin pra dinasti di Tiongkok yakni Yao, Shun dan Yu.

"Persembahyangan Shang Yuan merupakan perintah sembahyang wajib sebagaimana tersurat pada kitab suci agama Khonghucu yakni Si Shu (Empat Kitab) dan Wu Jing (Lima Kitab yang mendasari). Demikian pula Shang Yuan merupakan ritual wajib bagi penganut Tao. Sembahyang Shang Yuan tidak ada hubungan dengan agama Buddha demikian pula hal yang berkaitan dengan Perayaan Capgomeh," katanya.

Baca: Klenteng dan Cap Go Meh: Tinjauan Hukum, Sejarah, dan Keagamaan

Namun, sejarah mencatat katanya betapa saat diskriminasi rezim orde baru, ada upaya menafsirkan perayaan Capgomeh & Goan Siau dengan perayaan agama Buddha yakni Magha Puja yang sangat jauh sekali perbedaannya. Pengertian Magha Puja tentang berkumpulnya 1250 ehi Bhikku tidak ada kaitannya sama sekali dengan ritual Shang Yuan, Yuan Xiao dan Shi Wu Wei (Capgomeh).

Khusus di Manado, sejak dahulu masyarakat umum menyebut perayaan Capgomeh dengan istilah "Pasiar Tapikong". Pasiar dalam dialek Manado artinya jalan-jalan.

Tapikong adalah sebutan merujuk kepada pengertian Toapekong (dialek Hokkian) sedangkan dialek Hakka menyebutnya Taipakkung, Pinyin : Dabogong yang artinya merujuk pada pengertian sosok Shen Ming (Sien Beng) Roh Suci dan secara harafiah artinya leluhur.

Halaman
1234
Penulis: David_Manewus
Editor: Herviansyah
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved