Kasus Pelecehan Seksual Striker Persija, Swara Parangpuan Sulut Desak Pengesahan RUU P-KS

Hak korban adalah mendapatkan kebenaran, artinya keterangan korban diakui sebagai sebuah kebenaran bahwa dia telah mengalami kekerasan seksual.

Laporan Wartawan Tribun Manado Finneke Wolajan

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - LSM Swara Parangpuan mendesak pemerintah agar mengesahkan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual menjadi undang-undang. Ini agar korban punya perlindungan dan mendapatkan hak-haknya.

Nur Hasanah, personel Swara Parangpuan, mencontohkan kasus striker Persija Jakarta, Marko Simic. Pemerintah Australia menghukumnya karena tindakan tidak senonoh kepada seorang perempuan.

Ia tanpa izin menyentuh perempuan yang duduk di sebelahnya saat berada di pesawat dari Bali menuju Sydney. Kejadian tersebut berlanjut saat sampai di bandara Sydney pada Minggu (10/2/2019).

Baca: Dugaan Pelecahan Seksual Marko Simic, Menpora minta PSSI Kirim Pengacara ke Australia

Baca: Bintang Persija Jakarta Marko Simic Mengaku Tidak Melakukan Pelecehan Seksual

Baca: Belum Cari Striker Pengganti Marko Simic, Manajemen Persija Tunggu Perkembangan Kasus sang Pemain

"Waktu lalu pelecahan di Indonesia kasus Via Vallen dia lolos, sekarang kena batunya. Dia bisa dihukum karena Australia punya undang-undangnya," ujar Nur, Minggu (17/2/2019).

Satu di antara hak korban adalah mendapatkan kebenaran, artinya keterangan korban diakui sebagai sebuah kebenaran bahwa dia telah mengalami kekerasan seksual.

"Yang terjadi selama ini kan dianggap bohong, cari sensasi, seperti yang terjadi sama Via Vallen itu. Karena tidak ada bukti pelecehan atau dianggap cuma kalimat menggoda yang wajar meskipun bersangkutan merasa keberatan. Ini momentum yang tepat untuk kembali mendorong pengesahan RUU P-KS," katanya.

Baca: Kakek 79 Tahun Ditemukan Terapung di Pantai Pelabuhan Baru Calaca

Baca: Ahok & Puput Sudah Menikah? Fifi Lety Curhat Soal Pernikahan yang Salah

Baca: Deretan Foto Transformasi Syahrini, dari Masa SMA hingga Kini Jadi Penyanyi Glamor

Pihak kepolisian bandara Australia menginterogasi Simic dan menilai sang striker melakukan tindakan tidak senonoh tanpa persetujuan dan termasuk pelecehan.

Karena aksinya itu, paspor Simic ditahan oleh kepolisian Australia dan harus tetap berada di Negeri Kanguru hingga persidangan pada 9 April 2019. (*)

Penulis: Finneke Wolajan
Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved